SURVEY
IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013
Perkembangan
dunia pendidikan dari tahun ke tahun terus mengalami perubahan seiring dengan
tantangan dalam menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya
saing di era global. Salah satu permasalahan di bidang pendidikan yang dihadapi
oleh bangsa Indonesia, yaitu masih rendahnya kualitas pendidikan pada setiap
jenjang. Pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional,
salah satunya dengan melakukan penyempurnaan kurikulum. Saat ini, dunia
pendidikan Indonesia ramai diperbincangkan mengenai penerapan kurikulum 2013.
Banyak tanggapan positif dan negatif (pro-kontra) mengenai perubahan kurikulum
dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menjadi Kurikulum 2013.
Kurikulum 2013
diberlakukan secara bertahap mulai tahun ajaran 2013/2014 melalui pelaksanaan
terbatas, khususnya bagi sekolah yang sudah siap melaksanakannya dan sekolah
yang memiliki nilai akreditasi “A”. Tahun Ajaran 2013/2014, Kurikulum 2013
dilaksanakan secara terbatas untuk Kelas I dan Kelas IV Sekolah Dasar/Madrasah
Ibtida’iyah (SD/MI), Kelas VII Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah
(SMP/MTs), dan Kelas X Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah
Aliyah (SMA/SMK/MA).
Kepala Pendidikan dan Kebudayaan Musi Banyuasin (Disdikbud
Muba), Syafaruddin menyampaikan, kalau pihaknya pada tahun ajaran 2017 ini,
telah menerapkan sistem pengajaran kurikulum 2013 (K-13) untuk tingkat sekolah
dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP).
K-13, merupakan kurikulum yang
berlaku dalam Sistem Pendidikan Indonesia (SPI). Kurikulum ini
merupakan kurikulum tetap diterapkan oleh pemerintah, untuk
menggantikan Kurikulum 2006 (sering disebut sebagai Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP)). “Sistem pengajaran K-13 pada 2017 ini, kita sudah
menerapkan kepada 219 sekolah baik tingkat SD maupun SMP. Kalau di 2016 lalu,
hanya 58 sekolah,” ujarnya kepada fornews.co, Dikutip dari http://fornews.co/news/tahun-ajaran-2017-219-sd-dan-smp-di-muba-terapkan-k-13/
Implementasi Kurikulum 2013 tingkat SD masih dilaksanakan
pada Kelas I dan Kelas VI. Kurikulum 2013 dilaksanakan untuk membentuk karakter
dan keterampilan dari masing-masing peserta didik. Pemerintah memberikan
sosialisasi selama implementasi Kurikulum 2013 berupa diklat untuk menunjang
kelancaran implementasi Kurikulum 2013 dan supaya guru memperoleh wawasan
mengenai Kurikulum 2013.
Faktor pendukung implementasi Kurikulum 2013
meliputi buku pedoman yang diberikan ketika sosialisasi Kurikulum 2013, arahan
dari pengawas, fasilitas sekolah, dan sosialisasi yang diberikan oleh LPMP.
Dengan adanya faktor pendukung tersebut guru-guru memanfaatkan dengan cara
menggunakan buku pedoman untuk menyusun berbagai administrasi kurikulum,
memanfaatkan fasilitas sekolah semaksimal mungkin untuk menunjang pembelajaran,
mengikuti setiap sosialisasi yang diberikan oleh LPMP, dan mencari solusi dari
setiap masalah yang dihadapi bersama dengan kepala sekolah. Apabila kepala
sekolah dan guru tidak menemukan solusi dari masalah yang ada, maka kepala
sekolah meminta bantuan kepada pengawas sekolah untuk mencari solusi dari
masalah tersebut.
Orang tua peserta didik dan peserta didik juga
merupakan salah satu pendukung dalam implementasi Kurikulum 2013. Orang tua
peserta didik memberikan dukungan dengan membantu dan mengawasi anak belajar di
rumah serta orang tua mendukung adanya Kurikulum 2013 karena hal itu bisa
memudahkan anak dalam belajar. Peserta didik juga merasa senang dengan adanya
Kurikulum 2013 karena mereka tidak merasa bosan belajar materi terlalu banyak
karena pada Kurikulum 2013 materi pelajaran berisikan mengenai penggabungan
dari beberapa mata pelajaran ke dalam satu tema.
Otorisator dalam implementasi Kurikulum 2013
yaitu pengawas sekolah, kepala sekolah, guru Kelas I dan guru Kelas IV.
Masing-masing otorisator juga memiliki cara sendiri dalam menangani masalah
yaitu dengan memberikan motivasi, memonitoring, dan juga menyediakan dana untuk
keperluan implementasi Kurikulum 2013. Memanfaatkan waktu sebaik mungkin supaya
pembelajaran bisa berjalan optimal dan sharing dengan guru-guru dan
kepala sekolah apabila ada kesulitan dalam implementasi Kurikulum 2013.
Kepala sekolah memiliki peran penting dalam
implementasi Kurikulum 2013. Kepala sekolah dalam implementasi Kurikulum 2013
memiliki peran yaitu memberikan dukungan dan motivasi, memonitoring dan
menyampaikan ilmu yang diperoleh ketika mengikuti sosialisasi kepada guru-guru,
selain itu kepala sekolah melakukan supervisi kelompok, yaitu dengan kepala
sekolah mengadakan rapat untuk membahas kesulitan guru dalam proses
pembelajaran baik untuk implementasi Kurikulum 2013 maupun KTSP. Kepala sekolah
juga memberikan kesempatan kepada guru untuk meningkatkan profesinya dan
mendorong guru dalam mengikuti kegiatan yang bisa menunjang implementasi
Kurikulum 2013.
Guru juga memiliki peran dalam implementasi
Kurikulum 2013. Guru yang dimaksud disini yaitu guru yang melaksanakan
Kurikulum 2013 dan guru yang belum melaksanakan Kurikulum 2013. Peran guru
pelaksana dalam implementasi Kurikulum 2013 yaitu memberikan dukungan dan juga
motivasi antar sesama guru pelaksana dan membagikan ilmu yang diperoleh ketika
mengikuti sosialisasi kepada guru-guru yang tidak mengikuti sosialisasi.
Sedangkan peran guru bukan pelaksana dalam implementasi Kurikulum 2013 yaitu
memberikan motivasi dan dukungan kepada guru yang melaksanakan Kurikulum 2013..
Kepala sekolah
dan guru selalu mengikuti diklat pelaksanaan Kurikulum 2013 yang diadakan oleh
pihak LPMP supaya kepala sekolah dan guru paham mengenai Kurikulum 2013. Guru
bisa memanfaatkan fasilitas sekolah dalam proses pembelajaran supaya murid-murid
tidak merasa bosan dan merasa bersemangat dalam belajar di kelas serta
mendayagunakan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. Sebagaimana
diungkapkan oleh Mulyasa (2013:49), bahwa fasilitas dan sumber belajar tersebut
perlu didayagunakan seoptimal mungkin, dipelihara, dan disimpan sebaik-baiknya.
Dalam pengembangan fasilitas dan sumber belajar, guru disamping harus membuat
sendiri alat pembelajaran dan alat peraga, juga harus berinisiatif
mendayagunakan lingkungan sekitar sekolah sebagai sumber belajar yang lebih
konkrit.
Jika guru
mengalami masalah dalam implementasi Kurikulum 2013, guru menyampaikan kepada
kepala sekolah untuk mencari solusi bersama-sama dan jika kepala sekolah tidak
menemukan solusi untuk masalah yang dihadapi guru, maka kepala sekolah meminta
bantuan kepada pengawas sekolah untuk mencari solusi terhadap masalah yang
dihadapi oleh guru. Selain itu, guru juga bisa sharing dengan sesama
guru pelaksana Kurikulum 2013 dan guru yang bukan pelaksana Kurikulum 2013.
Kepala sekolah,
guru pelaksana, dan guru bukan pelaksana mempunyai peran masing-masing dalam
implementasi Kurikulum 2013. Menurut Marsh (dalam Hamalik, 2009:239) ada tiga
faktor yang mempengaruhi implementasi kurikulum di antaranya: “dukungan kepala
sekolah, dukungan rekan sejawat guru, dan dukungan internal dalam kelas”.
Senada dengan pernyataan dari Mars.
Sebagaimana
diungkapkan oleh Kemendikbud (2013:94), bahwa evaluasi terhadap pelaksanaan
kurikulum diselenggarakan dengan tujuan untuk mengidentifikasi masalah
pelaksanaan kurikulum dan membantu kepala sekolah dan guru menyelesaikan
masalah tersebut. Evaluasi dilakukan pada setiap satuan pendidikan dan
dilaksanakan pada satuan pendidikan di wilayah kota/kabupaten secara rutin dan
bergiliran.
Evaluasi dalam implementasi kurikulum
diperlukan oleh sekolah supaya pemerintah mengetahui kendala yang dialami guru
dan kepala sekolah dalam melaksanakan kurikulum karena dari masing-masing
sekolah kendala yang dihadapi berbeda-beda sehingga pada implementasi Kurikulum
2103 pihak LPMP mendatangi sekolah untuk melakukan monitoring secara langsung
terhadap implementasi Kurikulum 2013. Kegiatan monitoring dilakukan secara
rutin untuk mengetahui apakah ada kesulitan dalam implementasi. Kurikulum 2013
di sekolah yang kemudian dari kesulitan-kesulitan yang ada, pihak pemerintah
atau LPMP bisa mencarikan solusi supaya masalah yang dihadapi kepala sekolah
dan guru bisa terselesaikan.
KUNCI
KEBERHASILAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013
Dalam teori
kurikulum,keberhasilan suatu kurikulum merupakan proses panjang, mulai dari
kristalisasi berbagai gagasan dan konsep ideal tentang pendidikan, perumusan
desain kurikulum, persiapan pendidik dan tenagakependidikan serta sarana dan
prasarana, tata kelola pelaksanaan kurikulum, termasuk pembelajaran, penilaian
pembelajaran dan kurikulum. Dalam konteks ini, beberapa faktor penentukan berhasilan implementasi kurikulum 2013,
antara lain adalah
1.
kesesuaian kompetensi
pendidik dan tenaga kependidikandengankurikulum dan buku teks,
2.
ketersediaan buku sebagai bahan ajar dan
sumberbelajar,
3.
penguatan peran pemerintah dalam pembinaan dan
pengawasan,
4.
penguatan manajemen dan budaya sekolah,
5.
komitmen pemegang otoritaspendidikan di tingkat
daerah.
Pada diri guru,
sedikitnya ada empat aspek yang harus diberi perhatian khusus dalam rencana
implementasi dan keterlaksanaan kurikulum 2013, yaitu kompetensi pedagogi; kompetensi kepribadian; kompetensiprofesional, dan kompetensi
sosial.
Guru sebagai ujung tombak
penerapan kurikulum, diharapkan mampu menyiapkan dan membuka diri terhadap
beberapa kemungkinan terjadinya perubahan. Karena dalam kurikulum 2013,
bertujuan mendorong peserta didik,mampu lebih baik dalam melakukan observasi
(mengamati), bertanya, bernalar (mengolah),
menyajikan (mengkomunikasikan), menyimpulkan,dan mencipta, terhadap apa
yang mereka peroleh atau mereka ketahui setelah menerima materi pembelajaran.
Melalui enam tujuan tersebut diharapkan siswa memiliki kompetensi sikap, ketrampilan, dan pengetahuan lebih
baik,sertalebih kreatif, inovatif, danproduktif. Disinilah guru berperan
besar di dalam mengimplementasikan tiap proses pembelajaran pada kurikulum
2013.
Saran
Berdasarkan
hasil survey implementasi Kurikulum 2013, sarang-saran yang dapat dijadikan
masukan ditujukan kepada: Kepala Sekolah: (1) Kepala sekolah diharapkan bisa
meningkatkan kerjasama dengan guru dan juga pengawas sekolah, khususnya
mengenai implementasi Kurikulum 2013. Hal ini mengingat bahwa Kurikulum 2013
merupakan kurikulum yang baru dilaksanakan dan guru pelaksana juga masih
bingung dalam kelengkapan administrasi, (2) Kepala sekolah juga diharapkan
lebih meningkatkan pengawasan dan menanyakan kesulitan kepada guru pelaksana
Kurikulum 2013 supaya guru tidak merasa kesulitan dalam melaksanakan Kurikulum
2013, baik pada proses pembelajaran dan kelengkapan administrasi Kurikulum
2013, dan (3) Kepala sekolah diharapkan bisa mengadakan sosialisasi pembuatan
RPP Kurikulum 2013 supaya guru tidak merasa kesulitan lagi dalam pembuatannya.
Guru, hendaknya
mampu mengembangkan metode dan media pembelajaran sehingga mampu membuat
peserta didik merasa tertarik dalam mengikuti pembelajaran yang diberikan,
selain itu guru juga diharapkan bisa meningkatkan kerjasama dengan guru lain
yang melaksanakan dan belum melaksanakan Kurikulum 2013. Guru juga diharapkan
menggunakan RPP sebagai panduan dalam setiap pembelajaran.
Bagaimana menurut kalian?
DAFTAR RUJUKAN
Hamalik, O. 2009. Dasar-dasar Pengembangan
Kurikulum. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Husnawati, Z. 2013. Implementasi Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di Sekolah Dasar Islam (SDI) Surya Buana
Malang. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: FIP UM.
Kemendikbud. 2013. Materi Pelatihan Guru
Implementasi Kurikulum 2013: SD Kelas IV. Jakarta: Badan Pengembangan
Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan.
Mulyasa, E. 2013. Pengembangan dan
Implementasi Kurikulum 2013. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Rohyanto, A. H. 2013. Peran Kepala Sekolah
dalam Pengembangan Kurikulum Berbasis Karakter (Studi Kasus Pada Sekolah Dasar
Plus Al-Kautsar di Kota Malang). Skripsi Tidak Dipublikasikan. Malang: FIP
UM.
Sutikno. 2009. Implementasi Kurikulum 2006
di Sekolah Dasar (Studi Multisitus di SDN Bintoro 4 dan SDN Guntur 1 Kabupaten
Demak. Tesis tidak diterbitkan. Malang: PPs UM.
Yudhikawati, I. & Bafadal, I. 2006. Manajemen
Pendidikan: Peran Kepala Sekolah dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah
(MBS). Jurnal Manajemen Pendidikan, 19 (2): 128-141.