BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Bakat diyakini sebagai anugrah Tuhan YME kepada manusia. Anugrah tersebut perlu dikembangkan melalui proses pendidikan. Dengan
bakat yang dimiliki seseorang mampu meraih prestasi dalam berbagai bidang
sesuai dengan bakatnya. Bakat yang dimiliki seseorang berbeda antara satu
dengan yang lainnya, baik dari segi jenisnya maupun dalam derajat atau tingkat
pemilikan suatu bakat.
Belajar ataupun
bekerja pada bidang yang diminati terlebih lagi didukung dengan bakat serta talenta
yang sesuai, akan membawa gairah dan memberi kenikmatan dalam mempelajari atau
menjalaninya.
Sayangnya
sering kali remaja memilih suatu jurusan atau bidang studi karena terbawa dan
ikut teman-temannya,atau memilih memilih bidang yang lebih popular,tanpa sempat
mencerna terlebih dahulu dan memahami bidang yang akan dipelajari,menjadi apa
setelah selesai sekolah ataupun lebih jauh lagi mengenali bidang pekerjaan
seperti apa yang bias digelutinya sesuai dengan latar belakang pendidikannya
tersebut.
Mengembangkan
minat dan bakat bertujuan agar seseorang belajar atau dikemudian hari bisa
bekerja dibidang yang diminatinya dan sesuai minat dan bakat yang dimilikinya
sehingga mereka bisa mengembangkan kapabilitas untuk belajar serta bekerja
secara optimal dengan penuh antusias.
Bakat merupakan
interseksi dari faktor bawaan dan pengaruh lingkungan. Jadi apabila seseorang
terlahir dengan suatu bakat khusus, jika dididik dan dilatih, bakat tersebut
dapat berkembang dan dimanfaatkan secara optimal. Sebaliknya jika dibiarkan
saja tanpa pengarahan dan penguatan, bakat itu akan mati dan tak berguna.
1.2.
Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam pembuatan makalah ini
sebagai berikut :
1.
Apa pengertian, ciri-ciri
dari perkembangan?
2.
Apa saja prinsip dan
tahap perkembangan dan factor yang mempengaruhinya?
3.
Apa saja pengertian dan
jenis bakat khusus?
4.
Apa saja karakteristik dan
factor yang mempengaruhi bakat khusus?
5.
Bagaimana upaya
implementasi pengembangan bakat khusus dalam pembelajaran?
1.3. Tujuan
Penulisan
Terdapat beberapa tujuan dari penulisan makalah
ini, yaitu;
1.
Untuk memahami pengertian,
ciri-ciri dari perkembangan
2.
Untuk memahami prinsip
dan tahap perkembangan dan factor yang mempengaruhinya
3.
Untuk mengetahui pengertian dan jenis bakat khusus
4.
Untuk mengetahui karakteristik
dan factor yang mempengaruhi bakat khusus
5.
Untuk mengetahui upaya
implementasi pengembangan bakat khusus dalam
pembelajaran?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Perkembangan Bakat
Khusus Anak
2.1.1.
Pengertian perkembangan
Perkembangan adalah proses kualitatif yang mengacu pada
penyempurnaan fungsi sosial dan psikologis dalam diri seseorang dan berlangsung
sepanjang hidup manusia. Menurut Akhmad Sudrajat
(2008), Perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan yang sistematis,
progresif dan berkesinambungan dalam diri individu sejak lahir hingga akhir
hayatnya atau dapat diartikan pula sebagai perubahan – perubahan yang dialami
individu menuju tingkat kedewasaan atau kematangannya. Sesorang individu
mengalami perkembangan sejak masa konsepsi, serta akan berlangsung selama
hidupnya.
Menurut E.B Hurlock (1994) Perkembangan merupakan serangkaian
perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan
pengalaman, terdiri atas serangkaian perubahan yang bersifat kualitatif dan
kuantitatif. Dimaksudkan bahwa perkembangan merupakan proses perubahan individu
yang terjadi dari kematangan (kemampuan seseorang sesuai usia normal) dan
pengalaman yang merupakan interaksi antara individu dengan lingkungan sekitar
yang menyebabkan perubahan kualitatif dan kuantitatif (dapat diukur) yang
menyebabkan perubahan pada diri individu tersebut.
2.1.2. Ciri-ciri
Perkembangan
Ciri-Ciri
Perkembangan Secara Umum yaitu sebagai berikut:
1. Terjadinya
perubahan dalam
a. Aspek fisik :
perubahan tinggi dan berat badan serta organ-organ tubuh lainnya.
b. Aspek psikis :
semakin bertambahnya perbebdaharaan kata dan tanggapan kemampuan berfikir.
2. Terjadinya
perubahan dalam proporsi
a. Aspek fisik :
proporsi tubuh anak berubah sesuai dengan fase perkembangannya dan pada usia
remaja proporsi tunuh anmak mendekati proporsi tubuh usia remaja.
b.
Aspek psikis : perubahan imajinasi
dari fantasi ke realitas, dan perubahan perhatian dari yang tertuju pada
dirinya sendiri berlahan-lahan beralih
kepada orang lain.
3. Lenyapnya
tanda-tanda yang lama
a.
Tanda-tanda fisik : lenyapnya
kelenjar-kelenjar thymus (kelenjar pada kanak kanak) yang terletak pada bagian
dada, kelenjar pineal pada bagian bawah otak, rambut-rambut halus dan gigi
susu.
b.
Tanda-tanda psikis : lenyapnya masa
mengoceh (meraban), bentuk gerak-gerik kanak-kanak (seperti merangkak) dan
perilaku impulsif (dorongan untuk bertindak sebelum berfikir)
4. Diperolehnya
tanda-tanda yang baru
a. Tanda-tanda
fisik : pergantian gigi dan karakteristik pada usia remaja, baik primer
(menstruasi pada anak wanita dan mimpi basah pada anak pria), maupun sekunder
(perubahan pada anggota tubuh : pinggul dan buah dada pada wanita dan kumis,
jakun, suara pada anak pria).
b. Tanda-tanda
psikis : seperti berkembang rasa ingin tahu terutama yang berhubungan dengan
seks, ilmu pengetahuan, nilai-nilai moral dan kenyakinan bergama.
Selain itu, perkembangan juga memiliki
ciri-ciri sebagai berikut:
1.
Perkembangan selalu melibatkan proses
pertumbuhan yang diikuti dari perubahan fungsi, seperti perkembangan sistem
reproduksi akan diikuti perubahan pada fungsi alat kelamin.
2.
Perkembangan memiliki pola yang konstan dengan
hukum tetap, yaitu perkembangan dapat terjadi dari daerah kepala menuju ke arah
kaudal atau dari bagian proksimal ke bagian distal.
3.
Perkembangan memiliki tahapan yang berurutan
mulai dari kemampuan melakukan hal yang sederhana menuju kemampuan melakukan
hal yang sempurna.
4.
Perkembangan setiap individu memiliki kecepatan
pencapaian perkembangan yang berbeda.
5.
Perkembangan dapat menentukan pertumbuhan tahap
selanjutnya, dimana tahapan perkembangan harus melewati tahap demi tahap.
2.1.3. Prinsip-Prinsip
Perkembangan
Menurut Hurlock (1997) prinsip-prinsip perkembangan
tersebut meliputi:
1. Perkembangan Melibatkan Adanya Perubahan
Perkembangan selalu ditandai adanya
perubahan yang bersifat progresif yang bertujuan agar manusia dapat
menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan.
2. Perkembangan Awal Lebih Kritis dari Perkembangan Selanjutnya
Perkembangan merupakan proses continue, dimana perkembangan sebelumnya akan
mempengaruhi perkembangan selanjutnya. Oleh karena itu kesalahan ataupun
gangguan pada perkembangan awal akan terus mempengaruhi
perkembangan-perkembangan berikutnya.
3. Perkembangan Merupakan Hasil Proses Kematangan dan Belajar
Kematangan dan
Belajar
Kematangan merupakan hasil
perkembangan melalui tahapan-tahapan yang kompleks dan saling terkait dari
tahapan-tahapan awal ke tahapan-tahapan selanjutnya. Perkembangan merupakan
hasil belajar mengartikan bahwa perkembangan diperoleh melalui usaha sadar dan
latihan.
2.1.4.
Tahap Perkembangan
Tahap-tahap perkembangan Menurut Havighurst J. Robert (1961) antara lain sebagai berikut
:
Di masa ini manusia
belajar untuk berjalan, merangkak, memakan makanan yang padat, berbicara,
mengontrol regulasi pembuangan feses dan urin, mengenali dan membedakan
ciri-ciri fisik berdasarkan gender, belajar sedikit demi sedikit untuk membaca,
serta membentuk konsep dan mempelajari bahasa untuk mendeskripsikan situasi
fisik dan sosial yang riil.Pada masa ini, anak berada pada usia 0-6 tahun dan
memiliki ciri -ciri antaralain :
1. Belajar berjalan, mengambil makanan pada
2. Belajar bicara
3. Belajar mengontrol eliminasi (urin & fekal)
4. Belajar tentang perbedaan jenis kelamin
5. Membentuk konsep-konsep sederhana mengenai kenyataan sosial dan fisik
6. Belajar membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mengembangkan
hatinurani
7. Belajar mengadakan hubungan emosi
b.
Kanak-Kanak Madya (6-13 tahun)
Di masa ini manusia belajar kemampuan fisik untuk melakukan permainan
sederhana, menjalin hubungan dengan orang yang lebih tua, membangun perilaku
yang sehat agar diterima secara sosial, mengenali peran-peran gender
secara lebih kompleks (maskulin-feminin), membangun konsep yang teratur
mengenai kehidupan sehari-hari, mengembangkan kesadaran, moralitas, dan
perangkat nilai serta sistem sosial, mencapai independensi personal, serta
membangun sikap dan perilaku yang sesuai dengan sistem nilai yang dianut
lingkungan sosialnya.Pada masa ini, anak berada pada usia 6-13 tahun dan memiliki
ciri -ciri antara lain :
1. Membangun perilaku yang sehat
2. Belajar ketrampilan fisik yang diperlukan untuk permainan-permainan yang
luar biasa
3. Belajar bergaul dengan teman sebaya
4. Belajar peran sosial terkait dengan maskulinitas dan feminitas
5. Mengembangkan ketrampilan dasar seperti membaca, menulis dan berhitung
6. Mengembangkan konsep-konsep yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari
7. Membangun moralitas, hati nurani dan nilai-nilai
8. Pencapaian kemandirian
9. Membangun perilaku dalam kelompok sosial maupun institusi (sekolah)
c.
Remaja (13-18 tahun)
Di masa ini manusia belajar untuk, membangun hubungan yang matang dengan
kawan sebaya dari berbagai jenis kelamin, mempelajari dan menggapai salah satu
peran gender, menggapai kemandirian emosional terpisah dari orangtuanya dan
orang dewasa lainnya, menyiapkan pernikahan dan kehidupan keluarga, memilih
perangkat nilai dan sistem etis yang menjadi panduan dalam berperilaku,
menggapai perilaku-perilaku yang punya nilai tanggung jawab sosial, serta
memilih pekerjaan.Pada masa ini, remaja berada pada usia 13-18 tahun dan
memiliki ciri -ciri antara lain :
1. Membina hubungan baru yang lebih dewasa dengan teman sebaya baik laki maupun
perempuan
2. Pencapaian peran sosial maskulinitas atau feminitas
3. Pencapaian kemandirian emosi dari orang tua, orang lain
4. Pencapaian kemandirian dalam mengatur keuangan
5. Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan secara efektif
6. Memilih dan mempersiapkan pekerjaan
7. Mempersiapkan pernikahan dan kehidupan keluarga
8. Membangun ketrampilan dan konsep-konsep intelektual yang perlu bagi
warga Negara
9. Pencapaian tanggungjawab social
10. Memperolah nilai-nilai dan system etik sebagai penuntun dalam
berperilaku
d.
Dewasa Awal (19-30
tahun)
Di masa ini manusia harus
memilih pasangan, belajar untuk hidup berdampingan dengan pasangan hidup,
membangun keluarga, mengasuh anak, mengurus rumah, memulai pekerjaan, memiliki
tanggung jawab sosial secara luas, serta menemukan social group yang menyenangkan.Pada masa ini, mereka berada pada usia 19-30
tahun dan memiliki ciri -ciri antara lain :
1.
Memilih pasangan
2.
Belajar hidup
bersama orang lain sebagai pasangan
3.
Mulai berkeluarga
4.
Membesarkan anak
5.
Mengatur rumah
tangga
6.
Mulai bekerja
7.
Mendapat
tanggungjawab sebagai warga Negara
8.
Menemukan kelompok
sosial yang cocok
e.
Dewasa Lanjut (30-60 tahun)
Di masa ini manusia sudah mulai mendampingi remaja
dan anak-anak agar menjadi pribadi yang yang bahagia dan bertanggung jawab,
menggapai inluensi sosial dan tanggung jawab yang lebih luas dalam masyarakat,
mencapai dan memelihara performansi yang memuaskan dalam pekerjaan, membangun
aktivitas adult leisure time,
menerima dan menyesuaikan perubahan-perubahan psikologis pada masa paruh baya,
dan menyesuaikan diri menjadi orangtua lanjut.Pada masa ini,
seseorang yang telah dewasa lanjut berada pada usia 30-60 tahun dan memiliki
ciri -ciri antara lain :
1.
Mendapat
tanggungjawab sosial dan sebagai warga Negara
2.
Membangun dan
mempertahankan standard ekonomi keluarga
3.
Membimbing anak dan
remaja untuk menjadi dewasa yang bertanggungjawab
dan menyenangkan
4.
Mengembangkan
kegiatan-kegiatan di waktu luang
5.
Membina hubungan
dengan pasangannya sebagai individu
6.
Mengalami dan
menyesuaikan diri dengan beberapa perubahan fisik
7.
Menyesuaikan diri
dengan kehidupan sebagai orang tua yang bertambah tua
f.
Usia Lanjut (diatas 60 tahun)
Di masa ini manusia biasanya menyesuaikan
penurunan kekuatan fisik dan kesehatan, menyesuaikan terhadap penurunan
pendapatan dan pensiun, menyiapkan kematian pasangan, membangun afiliasi yang
eksplisit terhadap salah satu kelompok manula, mengadopsi dan mengadaptasi
peranan sosial dalam cara-cara yang fleksibel, serta membangun kepuasan fisik
terhadap hidupnya.Pada masa lanjut,
mereka berada pada usia 60 tahun lebih dan memiliki ciri -ciri antara lain :
1.
Menyesuaikan diri
dengan penurunan kekuatan fisik dan kesehatan
2.
Menyesuaikan diri
dengan situasi pensiun dan penghasilan yang semakin berkurang
3.
Menyesuaikan diri
dengan keadaan kehilangan pasangan (suami/istri)
4.
Membina hubungan
dengan teman sesama usia lanjut
5.
Melakukan
pertemuan-pertemuan social
6.
Membangun kepuasan
kehidupan
7.
Kesiapan menghadapi
kematian
2.1.5. Faktor-Faktor
Yang Mempengaruhi Perkembangan
Kajian
medik dan psikologi perkembangan menunjukkan bahwa disamping dipengaruhi oleh
faktor bawaan, kualitas individu juga sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor
lain, seperti faktor lingkungan yang tidak lepas dari pengaruh faktor
psikososial. Baik faktor bawaan atau sering juga disebut faktor keturunan dan
faktor lingkungan. Kedua faktor ini berbeda-beda antara individu yang satu
dengan yang lain, sehingga menyebabkan perbedaan yang disebut dengan istilah individual
differences.
Berdasarkan
hal ini, masing-masing individu memiliki keunikan atau kekhasan sendiri
baik dalam setiap gejala jiwa yang meliputi aspek kognitif, afektif dan
psikomotorik yang terlihat dalam kemampuan berfikir, merasakan sesuatu, serta
sikap dan perilakunya sehari-hari. Dalam melihat dan menyikapi perbedaan
tersebut, hendaknya pendidik menyadari bahwa tidak semua individu dapat
diperlakukan dengan cara yang selalu sama. Masing-masing individu memiliki
kekhasan sendiri, sehingga pendekatan yang sifatnya personal maupun
institusional tentu berbeda. Untuk lebih jelasnya, faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi perkembangan individu adalah sebagai berikut:
1. Faktor Internal
a.
Faktor Genetika
(hereditas)
Gen
adalah substansi/materi pembawa sifat yang diturunkan dari induk. Gen
mempengaruhi ciri dan sifat mahluk hidup, misalnya bentuk tubuh, tinggi tubuh,
warna kulit, dan sebagainya. Gen juga menentukan kemampuan metabolisme mahluk
hidup, sehingga mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya.
Hereditas merupakan “totalitas karakeristik individu yang
diwariskan orang tua kepada anak, atau segala potensi baik fisik maupun psikis
yang dimiliki individu sejak masa konsepsi sebagai pewarisan dari pihak orang
tua melalui gen-gen.
b.
Faktor
Fisiologis
Faktor-faktor fisiologis adalah
faktor-faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu. Factor fisiologis
yang mempengaruhi perkembangan peserta didik diantaranya adalah:
1) Tubuh dan warna kulit.
Tubuh
merupakan bagian dari pertumbuhan dan perkembangan seseorang yang tidak bisa
disamakan dengan yang lainnya, begitupun dengan warna kulit seseorang. Hal ini
akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan seseorang sesuai dengan tahap
perkembangannya.
2) Faktor Gizi atau Asupan Makanan
Kesehatan
individu sangat tergantung pada pemberian gizi yang baik dan berimbang. Hal ini
merupakan faktor yang sangat penting dalam merangsang tumbuh kembang individu
dan merangsang perkembangan otak dan sistem syarafnya yang merupakan bagian
paling penting dalam menentukan tumbuh dan kembang individu.
3) Cacat dan penyakit
Kondisi
individu yang cacat atau mempunyai penyakit tertentu, tentu saja akan
berpengaruh terhadap perkembangan anak. Pengaruh yang diberikan tidak hanya
pengaruh pada fisik saja, melainkan juga secara psikologis. Cacat atau penyakit
banyak disebabkan oleh beberapa hal yaitu :
a. Pengaruh genetik
b. Ibu yang kurang gizi pada saat mengandung.
c. Obat-obatan dan alkohol.
d. Radiasi
e. Penyakit yang diderita Ibu selama
kehamilan
f. Keadaan Emosi pada Ibu saat hamil.
c.
Faktor
Psikologis.
Kondisi fisik dan psikis individu
sangat berkaitan. Kondisi fisik yang tidak sempurna atau cacat juga berkaitan
dengan persepsi individu terhadap kemampuan dirinya. Begitupun dengan
ketidakmampuan intelektual yang diulas sebelumnya dapat disebabkan karena
kerusakan sistem syaraf , kerusakan otak atau mengalami retardasi mental.
Dalam hal
kejiwaan, kapasitas Mental, Emosi, dan Intelegensi setiap orang itu berbeda.
Kemampuan berpikir mempengaruhi banyak hal, seperti kemampuan belajar,
memecahkan masalah, dan berbahasa. Anak yang berkemampuan intelektual tinggi
akan berkemampuan berbahasa secara baik. Oleh karena itu kemampuan intelektual
tinggi, kemampuan berbahasa baik, dan pengendalian emosional secara seimbang
sangat menentukan keberhasilan dan kecerdasan dalam perkembangan sosial
anak.
Beberapa faktor psikologis yang
utama mempengaruhi proses perkembangan siswa antara lain :
1) Hormon
Hormon merupakan zat yang berfungsi mengendalikan
berbagai fungsi di dalam tubuh. Meskipun kadarnya sedikit, hormone memberikan
pengaruh yang nyata dalam pengaturan berbagai proses dalam tubuh. Hormone akan
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan pada mahluk hidup beragam jenisnya.
2) Kecerdasan/inteligensi siswa
Pada
umumnya kecerdasan diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik dalam mereaksi
rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui cara yang tepat.
Dengan demikian, kecerdasan bukan hanya berkaitan dengan kualitas otak saja,
tetapi juga organ-organ tubuh yang lain. Namun bila dikaitkan dengan
kecerdasan, tentunya otak merupakan organ yang penting dibandingkan organ yang
lain, karena fungsi otak itu sendiri sebagai pengendali tertinggi (executive
control) dari hampir seluruh aktivitas manusia.
Pemahaman
tentang tingkat kecerdasan individu dapat diperoleh oleh orangtua dan guru atau
pihak-pihak yang berkepentingan melalui konsultasi dengan psikolog atau
psikiater. Sehingga dapat diketahui anak didik berada pada tingkat kecerdasan
yang mana, amat superior, superior, ratarata, atau mungkin lemah mental.
Informasi tentang taraf kecerdasan seseorang merupakan hal yang sangat berharga
untuk memprediksi kemampuan belajar seseorang. Pemahaman terhadap tingkat
kecerdasan peserta didik akan membantu mengarahkan dan merencanakan bantuan
yang akan diberikan kepada siswa.
3) Seks
Perbedaan
perkembangan antara kedua jenis seks tidak tampak jelas yang nyata kelihatan
adalah kecepatan dalam pertumbuhan jasmaniyah. Pada waktu lahir anak
laki-lakilebih besar dari perempuan, tetapi anak perempuan lebih cepat
perkembangannya dan lebih cepat pula dalam mencapai kedewasaannya dari pada
anak laki-laki. Anak perempuan pada umumnya lebih cepat mencapai kematangan
seksnya kira-kira satu atau dua tahun lebih awal dan pisiknya juga tampak lebih
cepat besar dari pada anak lakilaki. Hal ini jelas pada anak umur 9 sampai 12
tahun
4) Motivasi
Motivasi adalah salah satu faktor
yang memengaruhi keefektifan kegiatan belajar siswa. Motivasilah yang mendorong
siswa inginn melakukan kegiatan belajar. Para ahli psikologi mendefinisikan
motivasi sebagai proses di dalam diri individu yang aktif, mendorong,
memberikan arah, dan menjaga perilaku setiap saat. Motivasi juga diartikan
sebagai pengaruh kebutuhan-kebutuhan dan keinginan terhadap intensitas dan arah
perilaku seseorang. Seperti seorang siswa yang gemar membaca, maka ia tidak
perlu disuruh-suruh untuk membaca, karena membaca tidak hanya menjadi
aktivitas kesenangannya, tapi bisa jadi juga telah menjadi kebutuhannya.
5) Sikap
Dalam
proses belajar, sikap individu dapat memengaruhi keberhasilan proses
belajarnya. Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa
kecenderungan untuk mereaksi atau merespons dengan cara yang relatif tetap
terhadap objek, orang, peristiwa dan sebagainya, baik secara positif maupun negative.
Sikap siswa dalam belajar dapat dipengaruhi oleh perasaan senang atau tidak
senang pada performan guru, pelajaran, atau lingkungan sekitarnya. Dan untuk
mengantisipasi munculnya sikap yang negatif dalam belajar, guru sebaiknya
berusaha untuk menjadi guru yang profesional dan bertanggung jawab terhadap
profesi yang dipilihnya. Dengan profesionalitas, seorang guru akan berusaha
memberikan yang terbaik bagi siswanya; berusaha mengembangkan kepribadian
sebagai seorang guru yang empatik, sabar, dan tulus kepada muridnya; berusaha
untuk menyajikan pelajaran yang diampunya dengan baik dan menarik sehingga
membuat siswa dapat mengikuti pelajaran dengan senang dan tidak menjemukan;
meyakinkan siswa bahwa bidang srudi yang dipelajari bermanfaat bagi diri siswa.
6) Bakat
Faktor
psikologis lain yang memengaruhi proses perkembangan adalah bakat. Secara umum,
bakat (aptitude) didefinisikan sebagai kemampuan potensial yang dimiliki
seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang Dengan
demikian, bakat adalah kemampuan seseorangyang menjadi salah satu komponen
yang diperlukan dalam proses belajar seseorang. Apabila bakat seseorang sesuai
dengan bidang yang sedang dipelajarinya, maka bakat itu akan mendukung proses
belajarnya sehingga kernungkinan besar ia akan berhasil.
2. Faktor
Eksternal
Faktor
eksternal merupakan hal – hal yang datang atau ada di luar diri siswa/peserta
didik yang meliputi lingkungan (khususnya pendidikan) dan pengalaman
berinteraksi siswa tersebut dengan lingkungan. faktor eksternal yang
memengaruhi perkembangan dapat digolongkan menjadi 7 macam yaitu: faktor
biologis, physis, ekonomis, cultural, edukatif, religious dan lingkungan.
a) Faktor Biologis
Faktor ini wujudnya berupa pengaruh yang datang pertama
kali dari pihak ibu dan ayah.
b) Faktor Physis
Faktor
ini mencakup kondisi keamanan, cuaca, keadaan geografis, sanitasi atau
kebersihan lingkungan, serta keadaan rumah yang meliputi ventilasi, cahaya, dan
kepadatan hunian. Semua kondisi di atas sangat mempengaruhi bagaimana individu
dapat menjalankan proses kehidupannya. Sebagai contoh, kondisi daerah yang
tidak aman karena adanya pertikaian dapat menyebabkan tekanan tersendiri bagi
individu dan proses imitasi atau peniruan perilaku kekerasan yang dapat
berpengaruh dalam pola perilaku individu. Sementara itu kondisi yang jelek pada
faktor cuaca, kurangnya sanitasi atau kebersihan lingkungan, keadaan rumah yang
tidak menunjang hidup sehat, serta keadaan geografis yang sulit, misalnya
karena di daerah terpencil yang jauh dari informasi, sulit dijangkau, serta
rawan akan bencana alam, selain dapat mempengaruhi tekanan psikis juga
mempengaruhi faktor kesehatan karena pengobatan yang sulit didapatkan.
c) Faktor Ekonomis/Status Sosial Ekonomi
Dalam proses perkembanganya, betapapun ukuranya
bervariasi, seorang anak pasti memerlukan biaya. Biaya untuk makan dan minum
dirumah, tetapi juga untuk membeli peralatan
sekolah yang dibutuhkan oleh siswa. Kehidupan sosial banyak dipengaruhi oleh
kondisi atau status kehidupan sosial keluarga dalam lingkungan masyarakat.
Masyarakat akan memandang anak, bukan sebagai anak yang independen, akan tetapi
akan dipandang dalam konteksnya yang utuh dalam keluarga anak itu. “ia anak
siapa”. Secara tidak langsung dalam pergaulan sosial anak, masyarakat dan
kelompoknya dan memperhitungkan norma yang berlaku di dalam keluarganya. Dari
pihak anak itu sendiri, perilakunya akan banyak memperhatikan kondisi normatif
yang telah ditanamkan oleh keluarganya. Sehubungan dengan itu, dalam kehidupan
sosial anak akan senantiasa “menjaga” status sosial dan ekonomi keluarganya.
Dalam hal tertentu, maksud “menjaga status sosial keluarganya” itu
mengakibatkan menempatkan dirinya dalam pergaulan sosial yang tidak tepat. Hal
ini dapat berakibat lebih jauh, yaitu anak menjadi “terisolasi” dari
kelompoknya. Akibat lain mereka akan membentuk kelompok elit dengan normanya
sendiri.
d) Faktor Cultural
Di Indonesia ini, jika dihitung ada berpuluh bahkan
beratus kelompok masyarakat yang masing–masing mempunyai kultur, budaya, adat
istiadat, dan tradisi tersendiri, dan hal ini jelas berpengaruh terhadap
perkembangan anak–anak.
e) Faktor Edukatif
Pendidikan merupakan proses sosialisasi anak yang
mempunyai pengaruh terhadap perkembangan anak manusia terarah. Hakikat
pendidikan sebagai proses pengoperasian ilmu yang normatif, yang memberikan warna
kehidupan sosial anak di dalam masyarakat dan kehidupan mereka di masa yang
akan datang. Pendidikan dalam arti luas harus diartikan bahwa perkembangan anak
dipengaruhi oleh kehidupan keluarga, masyarakat, dan kelembagaan.
Penanaman norma perilaku yang benar secara sengaja
diberikan kepadapeserta didik yang belajar di kelembagaan pendidikan (sekolah).
Kepada peserta didik bukan saja dikenalkan kepada norma-norma lingkungan dekat,
tetapi dikenalkan kepada norma kehidupan bangsa(nasional) dan norma kehidupan
antarbangsa. Etik pergaulan membentuk perilaku kehidupan bermasyarakat dan
bernegara. Faktor pendidikan ini relatif paling besar pengaruhnya dibandingkan
dengan faktor yang lain
f) Faktor Religious
Sebagai contoh
seorang anak yang hidup
dilingkungan yang kental dengan suasana religius, sudah pasti
ia akan berebeda dengan anak lain yang tidak berada dalam lingkungan religi yang kental, yang sekedar
terhitung orang beragama, lebih–lebih yang memang tidak beragama sama sekali,
ini adalah persoalan perkembangan pula, menyangkut proses terbentunya prilaku
seorang anak dengan agama sebagai faktor penting yang mempengaruhinya karena
pondasi agama merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh dan berperan
penting sebagai media kontrol dalam perkembangan peserta didik.
g) Faktor Lingkungan
Lingkungan sosial masyarakat. Kondisi lingkungan masyarakat tempat
tinggal siswa akan memengaruhi perkembangan
anak. Lingkungan siswa yang kumuh, banyak pengangguran dan anak telantar juga
dapat memengaruhi aktivitas belajar siswa, paling tidak siswa kesulitan ketika
memerlukan teman belajar, diskusi, atau meminjam alat-alat belajar yang
kebetulan belum dimilikinya.
Aliran yang berhubungan dengan faktor-faktor
yang mempengaruhi perkembangan siswa
1. Aliran Nativisme
Menurut aliran ini bahwa perkembangan individu itu
semata-mata ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa sejak lahir (natus =
lahir). Anak sejak lahir membawa sifat-sifat dan dasar-dasar tertentu yang
dinamakan sifat pembawaan. Para ahli yang mengikuti paham ini biasanya
menunjukkan berbagai kesamaan/kemiripan antara orangtua dengan anak-anaknya.
Misalnya kalau ayahnya ahli musik maka anaknya juga akan menjadi ahli musik,
ayahnya seorang ahli fisika maka anaknya juga akan menjadi ahli fisika.
Keistimewaan-keistimewaan yang dimiliki oleh orangtua juga dimiliki oleh
anaknya. Sifat pembawaan tersebut mempunyai peranan yang sangat penting bagi
perkembangan individu. Pendidikan dan lingkungan hampir-hampir tidak ada
pengaruhnya terhadap perkembangan anak. Akibatnya para ahli pengikut aliran ini
berpandangan pesimistis terhadap pengaruh pendidikan. Tokoh aliran ini ialah
Schopenhauer dan Lombroso.
2. Aliran Empirisme
Menurut aliran ini bahwa perkembangan individu itu
semata-mata ditentukan oleh faktor dari luar/lingkungan. Sedangkan pembawaan
tidak memiliki peranan sama sekali. Tokoh aliran ini ialah John Locke (1632 –
1704) yang terkenal dengan teori “Tabularasa”. Ia mengatakan bahwa anak lahir
seperti kertas putih yang belum mendapat coretan sedikitpun, akan dijadikan apa
kertas itu terserah kepada yang menulisnya.
Aliran empirisme menimbulkan optimisme dalam bidang
pendidikan. Segala sesuatu yang terdapat pada jiwa manusia dapat diubah oleh
pendidikan. Watak, sikap dan tingkah laku manusia dapat diubah oleh pendidikan.
Pendidikan dipandang mempunyai pengaruh yang tidak terbatas.
Keburukan yang
timbul dari pandangan ini adalah anak tidak diperlakukan sebagai anak, tetapi
diperlakukan semata-mata menurut keinginan orang dewasa. Pribadi anak sering
diabaikan dan kepentingannnya dilalaikan.
3. Aliran Konvergensi
Menurut aliran ini bahwa manusia dalam perkembangan
hidupnya dipengaruhi oleh bakat/pembawaan dan lingkungan atau dasar dan ajar.
Manusia lahir telah membawa benih-benih tertentu dan bisa berkembang karena
pengaruh lingkungan. Aliran ini dipelopori oleh W. Stern.
Pada umumhnya paham inilah yang sekarang banyak diikuti
oleh para ahli pendidikan dan psikologi, walaupun banyak juga kritik yang
dilancarkan terhadap paham ini. Salah satu kritik ialah Stern tidak dapat dengan
pasti menunjukkan perbandingan kekuatan dua pengaruh itu.
Dengan demikian pendidikan harus mengusahakan agar
benih-benih yang baik dapat berkembang secara optimal dan benih-benih yang
jelek ditekan sekuat mungkin sehingga tidak dapat berkembang
2.2.
Bakat Khusus
2.2.1.
Pengertian
Bakat Khusus
Bakat
khusus (aptitude) adalah mengandung makna kemampuan bawaan yang
merupakan potensi (potensial ability) yang masih perlu pengembangan dan
pelatihan lebih lanjut karena sifatnya masih bersifat potensial.
Kartini Kartono
(1979)
Bakat adalah mencakup segala faktor yang ada pada individu sejak awal pertama
dari kehidupannya, yang kemudian menumbuhkan perkembangan keahlian, kecakapan
dan keterampilan khusus tertentu. Bakat bersifat laten potensial (dalam arti
dapat mekar berkembang) sepanjang hidup manusia dan dapat diaktifkan
potensinya. Potensi-potensi yang terpendam dan masih tetap itu dapat dibuat
aktif.
Sarlito Wirawan
Sarwono (1979) Bakat adalah kondisi dalam diri seseoarang
yang memungkinkannya dengan suatu latihan khusus mencapai kecakapan,
pengetahuan dan keterampilan khusus.
Cony Seniawan
(1987)
Bakat berbeda dengan kemampuan (ability) yang memiliki makna daya untuk
melakukan sesuatu, sebagai hasil pembawaan dan latihan. Bakat juga berbeda
dengan kapasitas (capacity) dengan sinonimnya, yaitu kemampuan yang
dapat dikembangakan di masa yang akan datang apabila latihan dilakukan secara
optimal.
S.C. Utami Munandar (1985) Bakat (aptitude) pada umumnya diartikan sebagai kemampuan bawaan,sebagai
potensi yang masih perlu di kembangkan dan di latih agar dapat terwujud.berbeda
dengan bakat, “ kemampuan” merupakan daya untuk melakukan suatu tindakan
sebagai hasil dari pembawaan dan latihan. Kemampuan menunjukkan suatu tindakan
( performance) dapat di lakukan sekarang, sedangkan bakat memerlukan latihan
dan pendidikan agar suatu tindakan dapat di lakukan di masa yang akan
datang.
Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa bakat masih merupakan suatu potensi yang akan muncul
setelah memperoleh pengembangan dan latihan. Bakat memungkinkan seseorang untuk mencapai prestasi dalam bidang tertentu,
akan tetapi diperlukan tujuan latihan, pengetahuan, pengalaman, dan motivasi
agar bakat tersebut dapat terwujud. Keunggulan dalam satu bidang merupakan
hasil interaksi dari bakat yang dibawa sejak lahir dan factor lingkungan yang
menunjangnya. Bakat yang bagus dalam bidang tertentu akan berkembang maksimal kalau berada di
lingkungan yang tepat, sebaliknya lingkungan yang baik tidak mampu mencapai prestasi
puncak kalau tidak memiliki bakat yang memadai.
2.2.2.
Jenis-jenis
Bakat Khusus
Setiap orang
memiliki kemampuan yang berbeda sesuai dengan potensi yang ada pada dirinya.
Potensi yang dimiliki individu ada yang bersifat umum dan ada yang khusus.
Intelegensi termasuk kemampuan umum, sedangkan kemampuan khusus mengacu kepada
bakat yang dimiliki individu yang biasanya disebut dengan bakat khusus. Bakat
khusus (talent) adalah kemampuan bawaan berupa potensi khusus dan jika
memperoleh kesempatan berkembang dengan baik, akan muncul sebagai kemampuan khusus
dalam bidang tertentu sesuai potensinya. Individu yang memiliki bakat khusus di
bidang matematika misalnya, apabila memperoleh kesempatan untuk mengembangkan
secara optimal disertai motivasi yang tinggi akan memiliki kemampuan khusus dan
prestasi yang menonjol dalam bidang matematika.
1.
Conny Semiawan dan Utami Munandar (1987)
Conny Semiawan
dan Utami Munandar (1987) mengklasifikasikan jenis-jenis bakat khusus, baik
yang masih berupa potensi maupun yang sudah terwujud menjadi lima bidang,
yaitu:
- Bakat akademik khusus misalnya bakat untuk bekerja dalam angka-angka (numeric), logika bahasa, dan sejenisnya.
- Bakat khusus dalam bidang kreatif-produktif artinya bakat dalam menciptakan sesuatu yang baru, misalnya menghasilkan rancangan arsitektur baru, menciptakan teknologi terbaru dan lainnya.
- Bakat khusus dalam bidang seni, misalnya mampu mengaransemen music dan sangat dikagumi, menciptakan lagu hanya dalam waktu 30 menit, mampu melukis dengan sangat indah dalam waktu singkat dan sejenisnya.
- Bakat khusus kinestetik atau psikomotorik, misalnya bakat dalam bidang sepak bola, bulu tangkis, tennis, dan keterampilan teknik.
- Bakat khusus dalam bidang social misalnya sangat mahir melakukan negoisasi, mahir berkomunikasi dan sangat mahir dalam kepemimpinan.
2.
Ny. Moesono (1979)
Ditinjau dari
cara berfungsinya, Ny. Moesono (1979) mengemukakan bahwa bakat dapat
dikelompokkan menjadi 2 bagian, yaitu:
- Bakat kemahiran atau kemampuan mengenai bidang pekerjaan yang khusus seperti bakat musik, bakat menari, olahraga (sepakbola, senam), dan sebagainya.
- Bakat khusus tertentu yang diperlukan sebagai perantara untuk merealisir kemampuan tertentu, misalnya bakat melihat ruang (dimensi) yang diperlukan untuk merealisir bakat insinyur, bakat berhitung untuk merealisir bakat sebagai ahli statistik atau akuntansi, bakat verbal untuk merealisir bakat sebagai wartawan atau penulis novel, bakat bahasa untuk merealisir bakat orator dan penceramah.
2.2.3.
Karakteristik
Bakat Khusus Anak
Secara umum untuk
mengenali karakteristik anak-anak berbakat dapat dilihat beberapa segi
diantaranya sebagai berikut :
a.
Potensi
Beberapa hasil
penelitian menunjukan bahwa anak-anak berbakat memiliki potensi yang unggul.
Potensi bisa disebabkan oleh faktor keturunan, seperti studi yang dilakukan U.
Branfenbrenner (1972) dan Scarr Salaptek (1975) yang menyatakan secara tegas
bahwa tidak ada keraguan bahwa factor genetika mempunyai andil besar terhadap
kemampuan mental seseorang
2)
Cara menghadapi masalah
Cara menghadapi
masalah disini adalah keterlibatan seluruh aspek psikologis dan biologis setiap
anak berbakat pada saat mereka berhadapan dengan masalah tersebut. Langkah awal
dapat dilihat bahwa setiap anak berbakat mempunyai keinginan yang kuat untuk
mengetahu banyak hal, kemudian mereka akan melakukan ekspedisi dan eksplorasi
terhadap pengukuran saja. Setelah berfikir dengan baik, mereka akan memunculkan
hasil pemikiran dalam bentuk dan tingkah laku.
3)
Prestasi
Prestasi anak
berbakat dapat ditinjau dari segi fisik, psikologis, akademik, dan sosial.
Prestasi fisik yang dapat dicapai anak-anak adalah memiliki daya tahan tubuh
yang prima serta koordinasi gerak fisik yang harmonis (French, 1959).
Berdasarkan prestasi akademik, anak berbakat pada dasarnya memiliki system
saraf pusat (otak dan spinal cord) yang prima. Oleh karena itu, mereka dapat
mencapai tingkat kognitif yang tinggi
2.2.4.
Faktor-Faktor
Yang Mempengaruhi Pengembangan Bakat Khusus
Conny Semiawan
(1987) menegaskan bahwa berbeda dengan kemampuan yang menunjuk pada suatu
kinerja (performance) yang dapat dilakukan sekarang. Bakat sebagai potensi
masih memerlukan pendidikan dan latihan agar kinerja (performance) dapat dapat
dilakukan pada masa yang akan datang.
Ada sejumlah
faktor yang memperngaruhi perkembangan bakat khusus yang secara garis besar
dikelompokkan menjadi faktor internal dan eksternal.
Faktor internal
ialah faktor yang berasal dari dalam diri individu, faktor- faktor internal
tersebut ialah:
a.
Minat
b.
Motif berprestasi
c.
Keberanian mengambil resiko
d.
Keuletan dalam mengahadapi tantangan
e.
Kegigihan atau daya juang dalam mengatasi
kesulitan yang timbul
Adapun faktor
eksternal ialah factor yang berasal dari lingkungan individu tumbuh dan
berkembang, faktor-faktor eksternal meliputi:
a.
Kesempatan maksimal untuk mengembangankan diri
b.
Sarana dan prasarana
c.
Dukungan dan dorongan dari orang tua dan
keluarga
d.
Lingkungan tempat tinggal
e.
Pola asuh orang tua
Individu yang
memiliki bakat khusus dan memperoleh dukungan internal maupun eksternal, yaitu
memiliki minat yang tinggi terhadap bidang yang menjadi bakat khususnya,
memiliki motivasi berprestasi yang tinggi, memiliki daya juang yang tinggi, dan
ada kesempatan maksimal untuk mengembangakan bakat khususnya tersebut secara
optimal maka akan memunculkan kinerja atau kemampuan unggul dan mencapai
prestasi yang menonjol.
2.2.5.
Upaya
Pengembangan Bakat dan Implementasinya Bagi Pembelajaran
Bagaimana orang tua
dapat mengenal bakat khusus anak? Bakat anak dapat
dikenali dengan observasi terhadap apa yang selalu dikerjakan anak, kesungguhan
bakat anak bermanfaat bagi orang tua agar mereka dapat memahami dan memenuhi
kebutuhan-kebutuhan anak. Dengan mengenal ciri-ciri anak berbakat orang tua
dapat menyediakan lingkungan pendidikan yang sesuai dengan bakat anak. Mereka
dpat membantu anak memahami dirinya agar tidak melihat bakat seebagai suatu
beban tetapi suatu anugrah yang harus dihargai dan dikembangkan.
Manfaat lain dari
kemampuan orang tua mengenal bakat anak ialah agar orang tua dapat membantu
sekolah dalam prosedur pemanduan anak berbakat, dengan memberikan informasi
yang dibutuhkan tentang ciri-ciri dan keadaan anak mereka.
Sekolah mengirim daftar
atau ciri-ciri perilaku kepada orang tua dengan penjelasan bahwa sekolah perlu
mengetahui sifat-sifat siswa agar dapat merencanakan pengalaman pendidikan yang
sesuai baginya. Sebagai contoh, orang tua diminta memberi keterangan tentang
butir-butir berikut ini :
1. Hobi dan minat-minat
anak yang khusus.
2. Jenis buku yang
disenangi.
3. Masalah dan kebutuhan
khusus.
4. Prestasi unggul yang
pernah dicapai.
5. Pengalaman-pengalaman
khusus.
6. Kegiatan kelompok
yang disenangi.
7. Kegiatan mandiri yang
disenangi.
8. Sikap anak terhadap
sekolah atau guru.
9. Cita-cita untuk masa
depan.
Adapun kondisi-kondisi lingkungan
yang bersifat memupuk bakat anak adalah keamanan psikologis dan kebebasan
psikologis. Anak akan merasa aman secara
psikologis apabila :
1.
Pendidik
dapat menerimanya sebagaimana adanya, tanpa syarat dengan segala kekuatan dan
kelemahannya, serta memberi kepercayaan padanya bahwa pada dasarnya ia baik dan
mampu.
2.
Pendidik
mengusahakan suasana dimana anak tidak merasa “dinilai” oleh orang lain.
Memberi penilaian terhadap seseorang dapat dirasakan sebagai ancaman sehingga menimbulkan kebutuhan akan
pertahanan diri.
3.
Pendidikan
memberikan pengertian dalam arti dapat memahami pemikiran , perasaan, dan
perilaku anak, dapat menempatkan diri dalam situasi anak dan melihat dari sudut
pandang anak. Dalam suasana ini anak merasa aman untuk mengungkapkan bakatnya.
Anak akan merasakan
kebebasan psikologi apabila orang tua dan guru memberi kesempatan padanya untuk
mengungkapkan pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya. Kecuali itu pendidikan
hendaknya berfungsi mengembangkan bakat anak, jangan semata-mata menyajikan
kumpulan-kumpulan pengatahuan yang bersufat skolastik.
Pada akhir masa remaja
anak sudah banyak memikirkan tentang apa yang ingin ia lakukan dan apa yang
mampu ia lakukan. Makin banyak mendegar tentang macam-macam kemungkinan, baik
dalam bidang pendidikan maupun dalam pekerjaan, dapat membuatnya ragu-ragu
mengenai apa yang sebetulnya paling cocok baginya. Dengan pengenalan bakat yang
dimilikinya dan upaya pengembangannya dapat membantu remaja untuk dapat
menentukan pilihan yang tepat dan menyiapkan dirinya untuk dapat mencapai
tujuan-tujuannya.
Agar dapat
mengimplikasikan bakat khusus seseorang atau individu secara optimal, mereka
memerlukan progam pendidikan khusus seseuai dengan bakatnya. Program pendidikan
untuk mengembangkan individu berbakat khusus agar mencapai prestasi unggul
biasanya dikenal dengan istilah pendidkan berdiferensi. Program pendidikan ini
merupakan pelayanan di luar jangkauan program pendidikan biasa agar dapat
merealisasikan bakat dan kemampuannya secara optimal, baik untuk pengembangan
diri maupun untuk memeberikan sumbangan yang berarti bagi kemajuan bangsa dan
negara (Cony Semiawan (1987). Ada sejumlah langkah-langkah yang perlu dilakukan
untuk mengembangkan bakat khusus individu, yaitu sebagai berikut:
- Mengembangkan situasi dan kondisi yang memberikan kesempatan bagi anak-anak dan remaja untuk mengembangkan bakat khususnya dengan mengusahakan dukungan baik psikologis maupun fisik.
- Berupaya menumbuhkembangkan minat dan motif berprestasi tinggi dikalangan anak dan remaja baik dalam lingkungan keluarga sekolah maupun masyarakat.
- Meningkatkan daya juang kegigihan pada diri anak dna remaja dalam menghadapai tantangan dan kesulitan.
- Mengembangkan program pendidikan berdiferensi disekoah dengan kurikulum berdiferensiasi pula, guna memberikan pelayanan secara lebih lebih efektif kepada anak dan remaja yang memilik bakat khusus..
BAB III
PENUTUP
- Kesimpulan
Bakat merupakan kemampuan bawaan sebagai potensi yang masih
perlu dikembangkan dan dilatih agar dapat terwujud. Bakat tidaklah diturunkan
semata melainkan merupakan hasil interaksi dari factor keturunan dan factor
lingkungan. Bakat mencakup ciri – ciri lain yang dapat memberi kondisi
atau suasana yang memungkinkan bakat tersebut terealisasi termaksud
intelegensi, kepribadian, dan keterampilan khusus.
Bakat bukanlah merupakan trait atau sifat tunggal, melainkan
sekelompok sifat yang secara bertingkat membentuk bakat.Setiap anak memiliki
kelebihan dan talenta yang sebagian sudah bisa tampak pada usia dini, sehingga
orang tua harus selalu memperhatikan minat dan bakat yang di miliki oleh anak
tersebut. Dengan mengembangkan minat dan bakat bertujuan agar anak yang
mendapat didikkan yang baik dan selalu terpenuhi apa yang menjadi keinginannya,
kemudian hari bisa bekerja dibidang yang diminati nya dan sesuai dengan
kemampuan serta minat dan bakat yang dimilikinya sehingga anak tersebut bisa
mengembangkan kapabilitas untuk belajar serta bekerja secara optimal dengan
penuh antusias.
- Saran
Dalam penyusunan makalah ini, penulis
mengharapkan agar pembaca berkenan menyampaikan kekurangan-kekurangan yang ada
dalam makalah ini, serta memberikan saran dan masukan atas kekurangan tersebut.
Kritik dan saran yang pembaca ajukan akan kami jadikan sebagai bahan perbaikan
untuk penyusunan makalah yang selanjutnya, agar tidak terjadi kesalahan yang
sama.
DAFTAR
PUSTAKA
Akhmad
Sudrajat. 2008. Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik dan Model Pembelajaran.Bandung : Sinar
Baru Algensindo
Harvighurst,
Robert J.1961. Human Development and Education. New York : David Mckay Company
Hurlock, E.B.
1994. Psikologi Perkembangan (Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan).
Jakarta : Erlangga
Kartono, kartini. 1979. Psikologi Abnormal Dan Pathologi Sex.
Bandung:Alumni
Wirawan, Sarlito
S. 1979. Teori-teori psikologi social. Solo : Rajawali Pers
Munandar, Utami, S.C. 1985. Mengembangkan Bakat Dan Kreativitas
Peserta Didik Sekolah. Jakarta :
Gramedia
Moesono, Ny
1979. Psikologi perkembangan anak dan remaja. Bandung : remaja rosdakarya
Semiawan, Conny, R. 1992. Pengembangan
Kurikulum Berdiferensiasi. Jakarta:
Grasindo
Jgn lupa juga di posting materi kurikulum nya bu wulan 😄
BalasHapusiya pak rezi pahlevi..terima kasih sudah mengingatkan
Hapus