Sabtu, 14 Oktober 2017

MAKALAH PERKEMBANGAN DAN KARAKTERISTIK ASPEK BAKAT KHUSUS ANAK DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN SERTA IMPLEMENTASINYA DALAM PEMBELAJARAN



BAB I
PENDAHULUAN

1.1.       Latar Belakang
Bakat diyakini sebagai anugrah Tuhan YME kepada manusia. Anugrah tersebut perlu dikembangkan  melalui proses pendidikan. Dengan bakat yang dimiliki seseorang mampu meraih prestasi dalam berbagai bidang sesuai dengan bakatnya. Bakat yang dimiliki seseorang berbeda antara satu dengan yang lainnya, baik dari segi jenisnya maupun dalam derajat atau tingkat pemilikan suatu bakat.
Belajar ataupun bekerja pada bidang yang diminati terlebih lagi didukung dengan bakat serta talenta yang sesuai, akan membawa gairah dan memberi kenikmatan dalam mempelajari atau menjalaninya.
Sayangnya sering kali remaja memilih suatu jurusan atau bidang studi karena terbawa dan ikut teman-temannya,atau memilih memilih bidang yang lebih popular,tanpa sempat mencerna terlebih dahulu dan memahami bidang yang akan dipelajari,menjadi apa setelah selesai sekolah ataupun lebih jauh lagi mengenali bidang pekerjaan seperti apa yang bias digelutinya sesuai dengan latar belakang pendidikannya tersebut.
Mengembangkan minat dan bakat bertujuan agar seseorang belajar atau dikemudian hari bisa bekerja dibidang yang diminatinya dan sesuai minat dan bakat yang dimilikinya sehingga mereka bisa mengembangkan kapabilitas untuk belajar serta bekerja secara optimal dengan penuh antusias.
Bakat merupakan interseksi dari faktor bawaan dan pengaruh lingkungan. Jadi apabila seseorang terlahir dengan suatu bakat khusus, jika dididik dan dilatih, bakat tersebut dapat berkembang dan dimanfaatkan secara optimal. Sebaliknya jika dibiarkan saja tanpa pengarahan dan penguatan, bakat itu akan mati dan tak berguna.

1.2.       Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam pembuatan makalah ini sebagai berikut :
1.      Apa pengertian, ciri-ciri dari perkembangan?
2.      Apa saja prinsip dan tahap perkembangan dan factor yang mempengaruhinya?
3.       Apa saja pengertian dan jenis bakat khusus?
4.      Apa saja karakteristik dan factor yang mempengaruhi bakat khusus?
5.      Bagaimana upaya implementasi pengembangan bakat khusus dalam pembelajaran?

1.3.       Tujuan Penulisan
Terdapat beberapa tujuan dari penulisan makalah ini, yaitu;
1.      Untuk memahami pengertian, ciri-ciri dari perkembangan
2.      Untuk memahami prinsip dan tahap perkembangan dan factor yang mempengaruhinya
3.      Untuk mengetahui  pengertian dan jenis bakat khusus
4.      Untuk mengetahui karakteristik dan factor yang mempengaruhi bakat khusus
5.      Untuk mengetahui upaya implementasi pengembangan bakat khusus             dalam pembelajaran?







BAB II
PEMBAHASAN

2.1              Perkembangan Bakat Khusus Anak
2.1.1.      Pengertian perkembangan
Perkembangan adalah proses kualitatif yang mengacu pada penyempurnaan fungsi sosial dan psikologis dalam diri seseorang dan berlangsung sepanjang hidup manusia. Menurut Akhmad Sudrajat (2008), Perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan yang sistematis, progresif dan berkesinambungan dalam diri individu sejak lahir hingga akhir hayatnya atau dapat diartikan pula sebagai perubahan – perubahan yang dialami individu menuju tingkat kedewasaan atau kematangannya. Sesorang individu mengalami perkembangan sejak masa konsepsi, serta akan berlangsung selama hidupnya.
Menurut E.B Hurlock (1994) Perkembangan merupakan serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman, terdiri atas serangkaian perubahan yang bersifat kualitatif dan kuantitatif. Dimaksudkan bahwa perkembangan merupakan proses perubahan individu yang terjadi dari kematangan (kemampuan seseorang sesuai usia normal) dan pengalaman yang merupakan interaksi antara individu dengan lingkungan sekitar yang menyebabkan perubahan kualitatif dan kuantitatif (dapat diukur) yang menyebabkan perubahan pada diri individu tersebut.
2.1.2.      Ciri-ciri Perkembangan
Ciri-Ciri Perkembangan Secara Umum yaitu sebagai berikut:
1.   Terjadinya perubahan dalam
a.    Aspek fisik : perubahan tinggi dan berat badan serta organ-organ tubuh lainnya.
b.    Aspek psikis : semakin bertambahnya perbebdaharaan kata dan tanggapan kemampuan berfikir.
2.   Terjadinya perubahan dalam proporsi
a.    Aspek fisik : proporsi tubuh anak berubah sesuai dengan fase perkembangannya dan pada usia remaja proporsi tunuh anmak mendekati proporsi tubuh usia remaja.
b.    Aspek psikis : perubahan imajinasi dari fantasi ke realitas, dan perubahan perhatian dari yang tertuju pada dirinya sendiri  berlahan-lahan beralih kepada orang lain.
3.   Lenyapnya tanda-tanda yang lama
a.    Tanda-tanda fisik : lenyapnya kelenjar-kelenjar thymus (kelenjar pada kanak kanak) yang terletak pada bagian dada, kelenjar pineal pada bagian bawah otak, rambut-rambut halus dan gigi susu.
b.    Tanda-tanda psikis : lenyapnya masa mengoceh (meraban), bentuk gerak-gerik kanak-kanak (seperti merangkak) dan perilaku impulsif (dorongan untuk bertindak sebelum berfikir)
4.   Diperolehnya tanda-tanda yang baru
a.    Tanda-tanda fisik : pergantian gigi dan karakteristik pada usia remaja, baik primer (menstruasi pada anak wanita dan mimpi basah pada anak pria), maupun sekunder (perubahan pada anggota tubuh : pinggul dan buah dada pada wanita dan kumis, jakun, suara pada anak pria).
b.   Tanda-tanda psikis : seperti berkembang rasa ingin tahu terutama yang berhubungan dengan seks, ilmu pengetahuan, nilai-nilai moral dan kenyakinan bergama.
Selain itu, perkembangan juga memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.    Perkembangan selalu melibatkan proses pertumbuhan yang diikuti dari perubahan fungsi, seperti perkembangan sistem reproduksi akan diikuti perubahan pada fungsi alat kelamin.
2.    Perkembangan memiliki pola yang konstan dengan hukum tetap, yaitu perkembangan dapat terjadi dari daerah kepala menuju ke arah kaudal atau dari bagian proksimal ke bagian distal.
3.    Perkembangan memiliki tahapan yang berurutan mulai dari kemampuan melakukan hal yang sederhana menuju kemampuan melakukan hal yang sempurna.
4.    Perkembangan setiap individu memiliki kecepatan pencapaian perkembangan yang berbeda.
5.    Perkembangan dapat menentukan pertumbuhan tahap selanjutnya, dimana tahapan perkembangan harus melewati tahap demi tahap.

2.1.3.      Prinsip-Prinsip Perkembangan
Menurut Hurlock (1997) prinsip-prinsip perkembangan tersebut meliputi:
1.      Perkembangan Melibatkan Adanya Perubahan
Perkembangan selalu ditandai adanya perubahan yang bersifat progresif yang bertujuan agar manusia dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan.
2.      Perkembangan Awal Lebih Kritis dari Perkembangan Selanjutnya Perkembangan merupakan proses continue, dimana perkembangan sebelumnya akan mempengaruhi perkembangan selanjutnya. Oleh karena itu kesalahan ataupun gangguan pada perkembangan awal akan terus mempengaruhi perkembangan-perkembangan berikutnya.
3.      Perkembangan Merupakan Hasil Proses Kematangan dan Belajar
Kematangan dan Belajar
Kematangan merupakan hasil perkembangan melalui tahapan-tahapan yang kompleks dan saling terkait dari tahapan-tahapan awal ke tahapan-tahapan selanjutnya. Perkembangan merupakan hasil belajar mengartikan bahwa perkembangan diperoleh melalui usaha sadar dan latihan.

2.1.4.      Tahap Perkembangan
Tahap-tahap perkembangan Menurut Havighurst J. Robert (1961) antara lain sebagai berikut :
a.         Masa Bayi Dan Kanak-Kanak Awal(0-6 Tahun)
Di masa ini manusia belajar untuk berjalan, merangkak, memakan makanan yang padat, berbicara, mengontrol regulasi pembuangan feses dan urin, mengenali dan membedakan ciri-ciri fisik berdasarkan gender, belajar sedikit demi sedikit untuk membaca, serta membentuk konsep dan mempelajari bahasa untuk mendeskripsikan situasi fisik dan sosial yang riil.Pada masa ini, anak berada pada usia 0-6 tahun dan memiliki ciri -ciri antaralain :
1.      Belajar berjalan, mengambil makanan pada
2.      Belajar bicara
3.      Belajar mengontrol eliminasi (urin & fekal)
4.      Belajar tentang perbedaan jenis kelamin
5.      Membentuk konsep-konsep sederhana mengenai kenyataan sosial dan fisik
6.      Belajar membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mengembangkan hatinurani
7.      Belajar mengadakan hubungan emosi

b.        Kanak-Kanak Madya (6-13 tahun)
Di masa ini manusia belajar kemampuan fisik untuk melakukan permainan sederhana, menjalin hubungan dengan orang yang lebih tua, membangun perilaku yang sehat agar diterima secara sosial, mengenali  peran-peran gender secara lebih kompleks (maskulin-feminin), membangun konsep yang teratur mengenai kehidupan sehari-hari, mengembangkan kesadaran, moralitas, dan perangkat nilai serta sistem sosial, mencapai independensi personal, serta membangun sikap dan perilaku yang sesuai dengan sistem nilai yang dianut lingkungan sosialnya.Pada masa ini, anak berada pada usia 6-13 tahun dan memiliki ciri -ciri antara lain :
1.    Membangun perilaku yang sehat
2.    Belajar ketrampilan fisik yang diperlukan untuk permainan-permainan yang luar biasa
3.    Belajar bergaul dengan teman sebaya
4.    Belajar peran sosial terkait dengan maskulinitas dan feminitas
5.    Mengembangkan ketrampilan dasar seperti membaca, menulis dan berhitung
6.    Mengembangkan konsep-konsep yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari
7.    Membangun moralitas, hati nurani dan nilai-nilai
8.    Pencapaian kemandirian
9.    Membangun perilaku dalam kelompok sosial maupun institusi (sekolah)

c.         Remaja (13-18 tahun)
Di masa ini manusia belajar untuk, membangun hubungan yang matang dengan kawan sebaya dari berbagai jenis kelamin, mempelajari dan menggapai salah satu peran gender, menggapai kemandirian emosional terpisah dari orangtuanya dan orang dewasa lainnya, menyiapkan pernikahan dan kehidupan keluarga, memilih perangkat nilai dan sistem etis yang menjadi panduan dalam berperilaku, menggapai perilaku-perilaku yang punya nilai tanggung jawab sosial, serta memilih pekerjaan.Pada masa ini, remaja berada pada usia 13-18 tahun dan memiliki ciri -ciri antara lain :
1.      Membina hubungan baru yang lebih dewasa dengan teman sebaya baik laki maupun perempuan
2.      Pencapaian peran sosial maskulinitas atau feminitas
3.      Pencapaian kemandirian emosi dari orang tua, orang lain
4.      Pencapaian kemandirian dalam mengatur keuangan
5.      Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan secara efektif
6.      Memilih dan mempersiapkan pekerjaan
7.      Mempersiapkan pernikahan dan kehidupan keluarga
8.      Membangun ketrampilan dan konsep-konsep intelektual yang perlu bagi warga Negara
9.      Pencapaian tanggungjawab social
10.  Memperolah nilai-nilai dan system etik sebagai penuntun dalam berperilaku

d.        Dewasa Awal  (19-30 tahun)
Di masa ini manusia harus memilih pasangan, belajar untuk hidup berdampingan dengan pasangan hidup, membangun keluarga, mengasuh anak, mengurus rumah, memulai pekerjaan, memiliki tanggung jawab sosial secara luas, serta menemukan social group yang menyenangkan.Pada masa ini, mereka berada pada usia 19-30 tahun dan memiliki ciri -ciri antara lain :
1.        Memilih pasangan
2.        Belajar hidup bersama orang lain sebagai pasangan
3.        Mulai berkeluarga
4.        Membesarkan anak
5.        Mengatur rumah tangga
6.        Mulai bekerja
7.        Mendapat tanggungjawab sebagai warga Negara
8.        Menemukan kelompok sosial yang cocok
e.         Dewasa Lanjut (30-60 tahun)
Di masa ini manusia sudah mulai mendampingi remaja dan anak-anak agar menjadi pribadi yang yang bahagia dan bertanggung jawab, menggapai inluensi sosial dan tanggung jawab yang lebih luas dalam masyarakat, mencapai dan memelihara performansi yang memuaskan dalam pekerjaan, membangun aktivitas adult leisure time, menerima dan menyesuaikan perubahan-perubahan psikologis pada masa paruh baya, dan menyesuaikan diri menjadi orangtua lanjut.Pada masa ini, seseorang yang telah dewasa lanjut berada pada usia 30-60 tahun dan memiliki ciri -ciri antara lain :
1.        Mendapat tanggungjawab sosial dan sebagai warga Negara
2.        Membangun dan mempertahankan standard ekonomi keluarga
3.        Membimbing anak dan remaja untuk menjadi dewasa yang bertanggungjawab
dan menyenangkan
4.        Mengembangkan kegiatan-kegiatan di waktu luang
5.        Membina hubungan dengan pasangannya sebagai individu
6.        Mengalami dan menyesuaikan diri dengan beberapa perubahan fisik
7.        Menyesuaikan diri dengan kehidupan sebagai orang tua yang bertambah tua

f.         Usia Lanjut (diatas 60 tahun)
Di masa ini manusia biasanya menyesuaikan penurunan kekuatan fisik dan kesehatan, menyesuaikan terhadap penurunan pendapatan dan pensiun, menyiapkan kematian pasangan, membangun afiliasi yang eksplisit terhadap salah satu kelompok manula, mengadopsi dan mengadaptasi peranan sosial dalam cara-cara yang fleksibel, serta membangun kepuasan fisik terhadap hidupnya.Pada masa lanjut, mereka berada pada usia 60 tahun lebih dan memiliki ciri -ciri antara lain :
1.        Menyesuaikan diri dengan penurunan kekuatan fisik dan kesehatan
2.        Menyesuaikan diri dengan situasi pensiun dan penghasilan yang semakin berkurang
3.        Menyesuaikan diri dengan keadaan kehilangan pasangan (suami/istri)
4.        Membina hubungan dengan teman sesama usia lanjut
5.        Melakukan pertemuan-pertemuan social
6.        Membangun kepuasan kehidupan
7.        Kesiapan menghadapi kematian

2.1.5.      Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan
Kajian medik dan psikologi perkembangan menunjukkan bahwa disamping dipengaruhi oleh faktor bawaan, kualitas individu juga sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor lain, seperti faktor lingkungan yang tidak lepas dari pengaruh faktor psikososial. Baik faktor bawaan atau sering juga disebut faktor keturunan dan faktor lingkungan. Kedua faktor ini berbeda-beda antara individu yang satu dengan yang lain, sehingga menyebabkan perbedaan yang disebut dengan istilah individual differences.
Berdasarkan hal ini, masing-masing individu memiliki keunikan atau kekhasan sendiri baik dalam setiap gejala jiwa yang meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik yang terlihat dalam kemampuan berfikir, merasakan sesuatu, serta sikap dan perilakunya sehari-hari. Dalam melihat dan menyikapi perbedaan tersebut, hendaknya pendidik menyadari bahwa tidak semua individu dapat diperlakukan dengan cara yang selalu sama. Masing-masing individu memiliki kekhasan sendiri, sehingga pendekatan yang sifatnya personal maupun institusional tentu berbeda. Untuk lebih jelasnya, faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan individu adalah sebagai berikut:
1.       Faktor Internal
a.      Faktor Genetika (hereditas)
Gen adalah substansi/materi pembawa sifat yang diturunkan dari induk. Gen mempengaruhi ciri dan sifat mahluk hidup, misalnya bentuk tubuh, tinggi tubuh, warna kulit, dan sebagainya. Gen juga menentukan kemampuan metabolisme mahluk hidup, sehingga mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya.
Hereditas merupakan “totalitas karakeristik individu yang diwariskan orang tua kepada anak, atau segala potensi baik fisik maupun psikis yang dimiliki individu sejak masa konsepsi sebagai pewarisan dari pihak orang tua melalui gen-gen.
b.      Faktor Fisiologis
Faktor-faktor fisiologis adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu. Factor fisiologis yang mempengaruhi perkembangan peserta didik diantaranya adalah:
1)      Tubuh dan warna kulit.
Tubuh merupakan bagian dari pertumbuhan dan perkembangan seseorang yang tidak bisa disamakan dengan yang lainnya, begitupun dengan warna kulit seseorang. Hal ini akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan seseorang sesuai dengan tahap perkembangannya.
2)       Faktor Gizi atau Asupan Makanan
Kesehatan individu sangat tergantung pada pemberian gizi yang baik dan berimbang. Hal ini merupakan faktor yang sangat penting dalam merangsang tumbuh kembang individu dan merangsang perkembangan otak dan sistem syarafnya yang merupakan bagian paling penting dalam menentukan tumbuh dan kembang individu.
3)       Cacat dan penyakit
Kondisi individu yang cacat atau mempunyai penyakit tertentu, tentu saja akan berpengaruh terhadap perkembangan anak. Pengaruh yang diberikan tidak hanya pengaruh pada fisik saja, melainkan juga secara psikologis. Cacat atau penyakit banyak disebabkan oleh beberapa hal yaitu :
a.       Pengaruh genetik
b.       Ibu yang kurang gizi pada saat mengandung.
c.        Obat-obatan dan alkohol.
d.      Radiasi
e.       Penyakit yang diderita Ibu selama kehamilan
f.       Keadaan Emosi pada Ibu saat hamil.
c.       Faktor Psikologis.
Kondisi fisik dan psikis individu sangat berkaitan. Kondisi fisik yang tidak sempurna atau cacat juga berkaitan dengan persepsi individu terhadap kemampuan dirinya. Begitupun dengan ketidakmampuan intelektual yang diulas sebelumnya dapat disebabkan karena kerusakan sistem syaraf , kerusakan otak atau mengalami retardasi mental.
Dalam hal kejiwaan, kapasitas Mental, Emosi, dan Intelegensi setiap orang itu berbeda. Kemampuan berpikir mempengaruhi banyak hal, seperti kemampuan belajar, memecahkan masalah, dan berbahasa. Anak yang berkemampuan intelektual tinggi akan berkemampuan berbahasa secara baik. Oleh karena itu kemampuan intelektual tinggi, kemampuan berbahasa baik, dan pengendalian emosional secara seimbang sangat menentukan keberhasilan dan kecerdasan dalam perkembangan sosial  anak.
Bebera­pa faktor psikologis yang utama mempengaruhi proses perkembangan siswa antara lain :
1)      Hormon
Hormon merupakan zat yang berfungsi mengendalikan berbagai fungsi di dalam tubuh. Meskipun kadarnya sedikit, hormone memberikan pengaruh yang nyata dalam pengaturan berbagai proses dalam tubuh. Hormone akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan pada mahluk hidup beragam jenisnya.
2)      Kecerdasan/inteligensi siswa
Pada umumnya kecerdasan diartikan sebagai kemampu­an psiko-fisik dalam mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui cara yang tepat. Dengan demikian, kecerdasan bukan hanya berkaitan dengan kualitas otak saja, tetapi juga organ-organ tubuh yang lain. Namun bila dikaitkan dengan kecerdasan, tentunya otak merupakan organ yang penting dibandingkan organ yang lain, karena fungsi otak itu sendiri sebagai pengendali tertinggi (executive control) dari hampir seluruh aktivitas manusia.
Pemahaman tentang tingkat kecerdasan individu dapat diperoleh oleh orangtua dan guru atau pihak-pihak yang berkepentingan melalui konsultasi dengan psikolog atau psikiater. Sehingga dapat diketahui anak didik berada pada tingkat kecerdasan yang mana, amat superior, superior, rata­rata, atau mungkin lemah mental. Informasi tentang taraf kecerdasan seseorang merupakan hal yang sangat berhar­ga untuk memprediksi kemampuan belajar seseorang. ­Pemahaman terhadap tingkat kecerdasan peserta didik akan membantu mengarahkan dan merencanakan bantuan yang akan diberikan kepada siswa.
3)      Seks
Perbedaan perkembangan antara kedua jenis seks tidak tampak jelas yang nyata kelihatan adalah kecepatan dalam pertumbuhan jasmaniyah. Pada waktu lahir anak laki-lakilebih besar dari perempuan, tetapi anak perempuan lebih cepat perkembangannya dan lebih cepat pula dalam mencapai kedewasaannya dari pada anak laki-laki. Anak perempuan pada umumnya lebih cepat mencapai kematangan seksnya kira-kira satu atau dua tahun lebih awal dan pisiknya juga tampak lebih cepat besar dari pada anak lakilaki. Hal ini jelas pada anak umur 9 sampai 12 tahun
4)      Motivasi
Motivasi adalah salah satu faktor yang memengaruhi keefektifan kegiatan belajar siswa. Motivasilah yang mendo­rong siswa inginn melakukan kegiatan belajar. Para ahli psikologi mendefinisikan motivasi sebagai proses di dalam diri individu yang aktif, mendorong, memberikan arah, dan menjaga perilaku setiap saat. Motivasi juga diartikan sebagai pengaruh kebutuhan-kebutuhan dan keinginan terhadap intensitas dan arah perilaku seseorang. Seperti seorang siswa yang gemar membaca, maka ia tidak perlu disuruh-suruh untuk membaca, karena memba­ca tidak hanya menjadi aktivitas kesenangannya, tapi bisa jadi juga telah menjadi kebutuhannya.
5)      Sikap
Dalam proses belajar, sikap individu dapat memeng­aruhi keberhasilan proses belajarnya. Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespons dengan cara yang relatif tetap terhadap objek, orang, peristiwa dan sebagainya, baik secara positif maupun negative. Sikap siswa dalam belajar dapat dipengaruhi oleh perasaan senang atau tidak senang pada performan guru, pelajaran, atau lingkungan sekitarnya. Dan untuk mengantisipasi munculnya sikap yang negatif dalam belajar, guru sebaiknya berusaha untuk menjadi guru yang profesional dan bertanggung jawab terhadap profesi yang dipilihnya. Dengan profesionalitas, seorang guru akan berusaha membe­rikan yang terbaik bagi siswanya; berusaha mengembangkan kepribadian sebagai seorang guru yang empatik, sabar, dan tulus kepada muridnya; berusaha untuk menyajikan pelajar­an yang diampunya dengan baik dan menarik sehingga membuat siswa dapat mengikuti pelajaran dengan senang dan tidak menjemukan; meyakinkan siswa bahwa bidang srudi yang dipelajari bermanfaat bagi diri siswa.
6)      Bakat
Faktor psikologis lain yang memengaruhi proses perkembangan adalah bakat. Secara umum, bakat (aptitude) didefinisikan sebagai kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang Dengan demikian, bakat adalah kemam­puan seseorangyang menjadi salah satu komponen yang diperlukan dalam proses belajar seseorang. Apabila bakat seseorang sesuai dengan bidang yang sedang dipelajarinya, maka bakat itu akan mendukung proses belajarnya sehingga kernungkinan besar ia akan berhasil.
2.      Faktor Eksternal
Faktor eksternal merupakan hal – hal yang datang atau ada di luar diri siswa/peserta didik yang meliputi lingkungan (khususnya pendidikan) dan pengalaman berinteraksi siswa tersebut dengan lingkungan. faktor eksternal yang memengaruhi perkembangan dapat digolongkan menjadi 7 macam yaitu: faktor biologis, physis, ekonomis, cultural, edukatif, religious dan lingkungan.
a)       Faktor Biologis
Faktor ini wujudnya berupa pengaruh yang datang pertama kali dari pihak ibu dan ayah.
b)      Faktor Physis
Faktor ini mencakup kondisi keamanan, cuaca, keadaan geografis, sanitasi atau kebersihan lingkungan, serta keadaan rumah yang meliputi ventilasi, cahaya, dan kepadatan hunian. Semua kondisi di atas sangat mempengaruhi bagaimana individu dapat menjalankan proses kehidupannya. Sebagai contoh, kondisi daerah yang tidak aman karena adanya pertikaian dapat menyebabkan tekanan tersendiri bagi individu dan proses imitasi atau peniruan perilaku kekerasan yang dapat berpengaruh dalam pola perilaku individu. Sementara itu kondisi yang jelek pada faktor cuaca, kurangnya sanitasi atau kebersihan lingkungan, keadaan rumah yang tidak menunjang hidup sehat, serta keadaan geografis yang sulit, misalnya karena di daerah terpencil yang jauh dari informasi, sulit dijangkau, serta rawan akan bencana alam, selain dapat mempengaruhi tekanan psikis juga mempengaruhi faktor kesehatan karena pengobatan yang sulit didapatkan.
c)      Faktor Ekonomis/Status Sosial Ekonomi
Dalam proses perkembanganya, betapapun ukuranya bervariasi, seorang anak pasti memerlukan biaya. Biaya untuk makan dan minum dirumah, tetapi juga untuk membeli peralatan sekolah yang dibutuhkan oleh siswa. Kehidupan sosial banyak dipengaruhi oleh kondisi atau status kehidupan sosial keluarga dalam lingkungan masyarakat. Masyarakat akan memandang anak, bukan sebagai anak yang independen, akan tetapi akan dipandang dalam konteksnya yang utuh dalam keluarga anak itu. “ia anak siapa”. Secara tidak langsung dalam pergaulan sosial anak, masyarakat dan kelompoknya dan memperhitungkan norma yang berlaku di dalam keluarganya. Dari pihak anak itu sendiri, perilakunya akan banyak memperhatikan kondisi normatif yang telah ditanamkan oleh keluarganya. Sehubungan dengan itu, dalam kehidupan sosial anak akan senantiasa “menjaga” status sosial dan ekonomi keluarganya. Dalam hal tertentu, maksud “menjaga status sosial keluarganya” itu mengakibatkan menempatkan dirinya dalam pergaulan sosial yang tidak tepat. Hal ini dapat berakibat lebih jauh, yaitu anak menjadi “terisolasi” dari kelompoknya. Akibat lain mereka akan membentuk kelompok elit dengan normanya sendiri.
d)     Faktor Cultural
Di Indonesia ini, jika dihitung ada berpuluh bahkan beratus kelompok masyarakat yang masing–masing mempunyai kultur, budaya, adat istiadat, dan tradisi tersendiri, dan hal ini jelas berpengaruh terhadap perkembangan anak–anak.
e)       Faktor Edukatif
Pendidikan merupakan proses sosialisasi anak yang mempunyai pengaruh terhadap perkembangan anak manusia terarah. Hakikat pendidikan sebagai proses pengoperasian ilmu yang normatif, yang memberikan warna kehidupan sosial anak di dalam masyarakat dan kehidupan mereka di masa yang akan datang. Pendidikan dalam arti luas harus diartikan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh kehidupan keluarga, masyarakat, dan kelembagaan.
Penanaman norma perilaku yang benar secara sengaja diberikan kepadapeserta didik yang belajar di kelembagaan pendidikan (sekolah). Kepada peserta didik bukan saja dikenalkan kepada norma-norma lingkungan dekat, tetapi dikenalkan kepada norma kehidupan bangsa(nasional) dan norma kehidupan antarbangsa. Etik pergaulan membentuk perilaku kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Faktor pendidikan ini relatif paling besar pengaruhnya dibandingkan dengan faktor yang lain
f)       Faktor Religious
Sebagai contoh seorang anak yang hidup dilingkungan yang kental dengan suasana religius, sudah pasti ia akan berebeda dengan anak lain yang tidak berada dalam lingkungan religi yang kental, yang sekedar terhitung orang beragama, lebih–lebih yang memang tidak beragama sama sekali, ini adalah persoalan perkembangan pula, menyangkut proses terbentunya prilaku seorang anak dengan agama sebagai faktor penting yang mempengaruhinya karena pondasi agama merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh dan berperan penting sebagai media kontrol dalam perkembangan peserta didik.
g)      Faktor Lingkungan
Lingkungan sosial masyarakat. Kondisi lingkungan masya­rakat tempat tinggal siswa akan memengaruhi perkembangan anak. Lingkungan siswa yang kumuh, banyak pengang­guran dan anak telantar juga dapat memengaruhi aktivitas belajar siswa, paling tidak siswa kesulitan ketika memer­lukan teman belajar, diskusi, atau meminjam alat-alat belajar yang kebetulan belum dimilikinya.

Aliran yang berhubungan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan siswa
1.      Aliran Nativisme
Menurut aliran ini bahwa perkembangan individu itu semata-mata ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa sejak lahir (natus = lahir). Anak sejak lahir membawa sifat-sifat dan dasar-dasar tertentu yang dinamakan sifat pembawaan. Para ahli yang mengikuti paham ini biasanya menunjukkan berbagai kesamaan/kemiripan antara orangtua dengan anak-anaknya. Misalnya kalau ayahnya ahli musik maka anaknya juga akan menjadi ahli musik, ayahnya seorang ahli fisika maka anaknya juga akan menjadi ahli fisika. Keistimewaan-keistimewaan yang dimiliki oleh orangtua juga dimiliki oleh anaknya. Sifat pembawaan tersebut mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan individu. Pendidikan dan lingkungan hampir-hampir tidak ada pengaruhnya terhadap perkembangan anak. Akibatnya para ahli pengikut aliran ini berpandangan pesimistis terhadap pengaruh pendidikan. Tokoh aliran ini ialah Schopenhauer dan Lombroso.

2.      Aliran Empirisme
Menurut aliran ini bahwa perkembangan individu itu semata-mata ditentukan oleh faktor dari luar/lingkungan. Sedangkan pembawaan tidak memiliki peranan sama sekali. Tokoh aliran ini ialah John Locke (1632 – 1704) yang terkenal dengan teori “Tabularasa”. Ia mengatakan bahwa anak lahir seperti kertas putih yang belum mendapat coretan sedikitpun, akan dijadikan apa kertas itu terserah kepada yang menulisnya.
Aliran empirisme menimbulkan optimisme dalam bidang pendidikan. Segala sesuatu yang terdapat pada jiwa manusia dapat diubah oleh pendidikan. Watak, sikap dan tingkah laku manusia dapat diubah oleh pendidikan. Pendidikan dipandang mempunyai pengaruh yang tidak terbatas.

Keburukan yang timbul dari pandangan ini adalah anak tidak diperlakukan sebagai anak, tetapi diperlakukan semata-mata menurut keinginan orang dewasa. Pribadi anak sering diabaikan dan kepentingannnya dilalaikan.

3.      Aliran Konvergensi
Menurut aliran ini bahwa manusia dalam perkembangan hidupnya dipengaruhi oleh bakat/pembawaan dan lingkungan atau dasar dan ajar. Manusia lahir telah membawa benih-benih tertentu dan bisa berkembang karena pengaruh lingkungan. Aliran ini dipelopori oleh W. Stern.
Pada umumhnya paham inilah yang sekarang banyak diikuti oleh para ahli pendidikan dan psikologi, walaupun banyak juga kritik yang dilancarkan terhadap paham ini. Salah satu kritik ialah Stern tidak dapat dengan pasti menunjukkan perbandingan kekuatan dua pengaruh itu.
Dengan demikian pendidikan harus mengusahakan agar benih-benih yang baik dapat berkembang secara optimal dan benih-benih yang jelek ditekan sekuat mungkin sehingga tidak dapat berkembang
2.2.      Bakat Khusus
2.2.1.      Pengertian Bakat Khusus
Bakat khusus (aptitude) adalah mengandung makna kemampuan bawaan yang merupakan potensi (potensial ability) yang masih perlu pengembangan dan pelatihan lebih lanjut karena sifatnya masih bersifat potensial.
Kartini Kartono (1979) Bakat adalah mencakup segala faktor yang ada pada individu sejak awal pertama dari kehidupannya, yang kemudian menumbuhkan perkembangan keahlian, kecakapan dan keterampilan khusus tertentu. Bakat bersifat laten potensial (dalam arti dapat mekar berkembang) sepanjang hidup manusia dan dapat diaktifkan potensinya. Potensi-potensi yang terpendam dan masih tetap itu dapat dibuat aktif.
Sarlito Wirawan Sarwono (1979) Bakat adalah kondisi dalam diri seseoarang yang memungkinkannya dengan suatu latihan khusus mencapai kecakapan, pengetahuan dan keterampilan khusus.
Cony Seniawan (1987) Bakat berbeda dengan kemampuan (ability) yang memiliki makna daya untuk melakukan sesuatu, sebagai hasil pembawaan dan latihan. Bakat juga berbeda dengan kapasitas (capacity) dengan sinonimnya, yaitu kemampuan yang dapat dikembangakan di masa yang akan datang apabila latihan dilakukan secara optimal.
S.C. Utami Munandar (1985) Bakat (aptitude) pada umumnya diartikan sebagai kemampuan bawaan,sebagai potensi yang masih perlu di kembangkan dan di latih agar dapat terwujud.berbeda dengan bakat, “ kemampuan” merupakan daya untuk melakukan suatu tindakan sebagai hasil dari pembawaan dan latihan. Kemampuan menunjukkan suatu tindakan ( performance) dapat di lakukan sekarang, sedangkan bakat memerlukan latihan dan pendidikan agar suatu tindakan dapat di lakukan di masa  yang akan datang.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bakat masih merupakan suatu potensi yang akan muncul setelah memperoleh pengembangan dan latihan. Bakat memungkinkan seseorang untuk mencapai prestasi dalam bidang tertentu, akan tetapi diperlukan tujuan latihan, pengetahuan, pengalaman, dan motivasi agar bakat tersebut dapat terwujud. Keunggulan dalam satu bidang merupakan hasil interaksi dari bakat yang dibawa sejak lahir dan factor lingkungan yang menunjangnya. Bakat yang bagus dalam bidang tertentu  akan berkembang maksimal kalau berada di lingkungan yang tepat, sebaliknya lingkungan yang baik tidak mampu mencapai prestasi puncak kalau tidak memiliki bakat yang memadai.

2.2.2.      Jenis-jenis Bakat Khusus
Setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda sesuai dengan potensi yang ada pada dirinya. Potensi yang dimiliki individu ada yang bersifat umum dan ada yang khusus. Intelegensi termasuk kemampuan umum, sedangkan kemampuan khusus mengacu kepada bakat yang dimiliki individu yang biasanya disebut dengan bakat khusus. Bakat khusus (talent) adalah kemampuan bawaan berupa potensi khusus dan jika memperoleh kesempatan berkembang dengan baik, akan muncul sebagai kemampuan khusus dalam bidang tertentu sesuai potensinya. Individu yang memiliki bakat khusus di bidang matematika misalnya, apabila memperoleh kesempatan untuk mengembangkan secara optimal disertai motivasi yang tinggi akan memiliki kemampuan khusus dan prestasi yang menonjol dalam bidang matematika.
1.         Conny Semiawan dan Utami Munandar (1987)
Conny Semiawan dan Utami Munandar (1987) mengklasifikasikan jenis-jenis bakat khusus, baik yang masih berupa potensi maupun yang sudah terwujud menjadi lima bidang, yaitu:
  1. Bakat akademik khusus misalnya bakat untuk bekerja dalam angka-angka (numeric), logika bahasa, dan sejenisnya.
  2. Bakat khusus dalam bidang kreatif-produktif artinya bakat dalam menciptakan sesuatu yang baru, misalnya menghasilkan rancangan arsitektur baru, menciptakan teknologi terbaru dan lainnya.
  3. Bakat khusus dalam bidang seni, misalnya mampu mengaransemen music dan sangat dikagumi, menciptakan lagu hanya dalam waktu 30 menit, mampu melukis dengan sangat indah dalam waktu singkat dan sejenisnya.
  4. Bakat khusus kinestetik atau psikomotorik, misalnya bakat dalam bidang sepak bola, bulu tangkis, tennis, dan keterampilan teknik.
  5. Bakat khusus dalam bidang social misalnya sangat mahir melakukan negoisasi, mahir berkomunikasi dan sangat mahir dalam kepemimpinan.

2.      Ny. Moesono (1979)
Ditinjau dari cara berfungsinya, Ny. Moesono (1979) mengemukakan bahwa bakat dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian, yaitu:
  1. Bakat kemahiran atau kemampuan mengenai bidang pekerjaan yang khusus seperti bakat musik, bakat menari, olahraga (sepakbola, senam), dan sebagainya.
  2. Bakat khusus tertentu yang diperlukan sebagai perantara untuk merealisir kemampuan tertentu, misalnya bakat melihat ruang (dimensi) yang diperlukan untuk merealisir bakat insinyur, bakat berhitung untuk merealisir bakat sebagai ahli statistik atau akuntansi, bakat verbal untuk merealisir bakat sebagai wartawan atau penulis novel, bakat bahasa untuk merealisir bakat orator dan penceramah.

2.2.3.      Karakteristik Bakat Khusus Anak
Secara umum untuk mengenali karakteristik anak-anak berbakat dapat dilihat beberapa segi diantaranya sebagai berikut :
a.         Potensi
Beberapa hasil penelitian menunjukan bahwa anak-anak berbakat memiliki potensi yang unggul. Potensi bisa disebabkan oleh faktor keturunan, seperti studi yang dilakukan U. Branfenbrenner (1972) dan Scarr Salaptek (1975) yang menyatakan secara tegas bahwa tidak ada keraguan bahwa factor genetika mempunyai andil besar terhadap kemampuan mental seseorang
2)        Cara menghadapi masalah
Cara menghadapi masalah disini adalah keterlibatan seluruh aspek psikologis dan biologis setiap anak berbakat pada saat mereka berhadapan dengan masalah tersebut. Langkah awal dapat dilihat bahwa setiap anak berbakat mempunyai keinginan yang kuat untuk mengetahu banyak hal, kemudian mereka akan melakukan ekspedisi dan eksplorasi terhadap pengukuran saja. Setelah berfikir dengan baik, mereka akan memunculkan hasil pemikiran dalam bentuk dan tingkah laku.
3)        Prestasi
Prestasi anak berbakat dapat ditinjau dari segi fisik, psikologis, akademik, dan sosial. Prestasi fisik yang dapat dicapai anak-anak adalah memiliki daya tahan tubuh yang prima serta koordinasi gerak fisik yang harmonis (French, 1959). Berdasarkan prestasi akademik, anak berbakat pada dasarnya memiliki system saraf pusat (otak dan spinal cord) yang prima. Oleh karena itu, mereka dapat mencapai tingkat kognitif yang tinggi




2.2.4.      Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengembangan Bakat Khusus
Conny Semiawan (1987) menegaskan bahwa berbeda dengan kemampuan yang menunjuk pada suatu kinerja (performance) yang dapat dilakukan sekarang. Bakat sebagai potensi masih memerlukan pendidikan dan latihan agar kinerja (performance) dapat dapat dilakukan pada masa yang akan datang.
Ada sejumlah faktor yang memperngaruhi perkembangan bakat khusus yang secara garis besar dikelompokkan menjadi faktor internal dan eksternal.
Faktor internal ialah faktor yang berasal dari dalam diri individu, faktor- faktor internal tersebut ialah:
a.    Minat
b.    Motif berprestasi
c.    Keberanian mengambil resiko
d.   Keuletan dalam mengahadapi tantangan
e.    Kegigihan atau daya juang dalam mengatasi kesulitan yang timbul
Adapun faktor eksternal ialah factor yang berasal dari lingkungan individu tumbuh dan berkembang, faktor-faktor eksternal meliputi:
a.    Kesempatan maksimal untuk mengembangankan diri
b.    Sarana dan prasarana
c.    Dukungan dan dorongan dari orang tua dan keluarga
d.   Lingkungan tempat tinggal
e.    Pola asuh orang tua
Individu yang memiliki bakat khusus dan memperoleh dukungan internal maupun eksternal, yaitu memiliki minat yang tinggi terhadap bidang yang menjadi bakat khususnya, memiliki motivasi berprestasi yang tinggi, memiliki daya juang yang tinggi, dan ada kesempatan maksimal untuk mengembangakan bakat khususnya tersebut secara optimal maka akan memunculkan kinerja atau kemampuan unggul dan mencapai prestasi yang menonjol.



2.2.5.      Upaya Pengembangan Bakat dan Implementasinya Bagi Pembelajaran
Bagaimana orang tua dapat mengenal bakat khusus anak? Bakat anak dapat dikenali dengan observasi terhadap apa yang selalu dikerjakan anak, kesungguhan bakat anak bermanfaat bagi orang tua agar mereka dapat memahami dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan anak. Dengan mengenal ciri-ciri anak berbakat orang tua dapat menyediakan lingkungan pendidikan yang sesuai dengan bakat anak. Mereka dpat membantu anak memahami dirinya agar tidak melihat bakat seebagai suatu beban tetapi suatu anugrah yang harus dihargai dan dikembangkan.
Manfaat lain dari kemampuan orang tua mengenal bakat anak ialah agar orang tua dapat membantu sekolah dalam prosedur pemanduan anak berbakat, dengan memberikan informasi yang dibutuhkan tentang ciri-ciri dan keadaan anak mereka.
Sekolah mengirim daftar atau ciri-ciri perilaku kepada orang tua dengan penjelasan bahwa sekolah perlu mengetahui sifat-sifat siswa agar dapat merencanakan pengalaman pendidikan yang sesuai baginya. Sebagai contoh, orang tua diminta memberi keterangan tentang butir-butir berikut ini :
1. Hobi dan minat-minat anak yang khusus.
2. Jenis buku yang disenangi.
3. Masalah dan kebutuhan khusus.
4. Prestasi unggul yang pernah dicapai.
5. Pengalaman-pengalaman khusus.
6. Kegiatan kelompok yang disenangi.
7. Kegiatan mandiri yang disenangi.
8. Sikap anak terhadap sekolah atau guru.
9. Cita-cita untuk masa depan.
Adapun kondisi-kondisi lingkungan yang bersifat memupuk bakat anak adalah keamanan psikologis dan kebebasan psikologis. Anak akan merasa aman secara psikologis apabila :
1.        Pendidik dapat menerimanya sebagaimana adanya, tanpa syarat dengan segala kekuatan dan kelemahannya, serta memberi kepercayaan padanya bahwa pada dasarnya ia baik dan mampu.
2.        Pendidik mengusahakan suasana dimana anak tidak merasa “dinilai” oleh orang lain. Memberi penilaian terhadap seseorang dapat dirasakan sebagai  ancaman sehingga menimbulkan kebutuhan akan pertahanan diri.
3.        Pendidikan memberikan pengertian dalam arti dapat memahami pemikiran , perasaan, dan perilaku anak, dapat menempatkan diri dalam situasi anak dan melihat dari sudut pandang anak. Dalam suasana ini anak merasa aman untuk mengungkapkan bakatnya.
Anak akan merasakan kebebasan psikologi apabila orang tua dan guru memberi kesempatan padanya untuk mengungkapkan pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya. Kecuali itu pendidikan hendaknya berfungsi mengembangkan bakat anak, jangan semata-mata menyajikan kumpulan-kumpulan pengatahuan yang bersufat skolastik.
Pada akhir masa remaja anak sudah banyak memikirkan tentang apa yang ingin ia lakukan dan apa yang mampu ia lakukan. Makin banyak mendegar tentang macam-macam kemungkinan, baik dalam bidang pendidikan maupun dalam pekerjaan, dapat membuatnya ragu-ragu mengenai apa yang sebetulnya paling cocok baginya. Dengan pengenalan bakat yang dimilikinya dan upaya pengembangannya dapat membantu remaja untuk dapat menentukan pilihan yang tepat dan menyiapkan dirinya untuk dapat mencapai tujuan-tujuannya.
Agar dapat mengimplikasikan bakat khusus seseorang atau individu secara optimal, mereka memerlukan progam pendidikan khusus seseuai dengan bakatnya. Program pendidikan untuk mengembangkan individu berbakat khusus agar mencapai prestasi unggul biasanya dikenal dengan istilah pendidkan berdiferensi. Program pendidikan ini merupakan pelayanan di luar jangkauan program pendidikan biasa agar dapat merealisasikan bakat dan kemampuannya secara optimal, baik untuk pengembangan diri maupun untuk memeberikan sumbangan yang berarti bagi kemajuan bangsa dan negara (Cony Semiawan (1987). Ada sejumlah langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk mengembangkan bakat khusus individu, yaitu sebagai berikut:
  1. Mengembangkan situasi dan kondisi yang memberikan kesempatan bagi anak-anak dan remaja untuk mengembangkan bakat khususnya dengan mengusahakan dukungan baik psikologis maupun fisik.
  2. Berupaya menumbuhkembangkan minat dan motif berprestasi tinggi dikalangan anak dan remaja baik dalam lingkungan keluarga sekolah maupun masyarakat.
  3. Meningkatkan daya juang kegigihan pada diri anak dna remaja dalam menghadapai tantangan dan kesulitan.
  4. Mengembangkan program pendidikan berdiferensi disekoah dengan kurikulum berdiferensiasi pula, guna memberikan pelayanan secara lebih lebih efektif kepada anak dan remaja yang memilik bakat khusus..






BAB III
PENUTUP
  1. Kesimpulan
Bakat merupakan kemampuan bawaan sebagai potensi yang masih perlu dikembangkan dan dilatih agar dapat terwujud. Bakat tidaklah diturunkan semata melainkan merupakan hasil interaksi dari factor keturunan dan factor lingkungan. Bakat mencakup ciri – ciri lain yang dapat memberi kondisi atau suasana yang memungkinkan bakat tersebut terealisasi termaksud intelegensi, kepribadian, dan keterampilan khusus.
Bakat bukanlah merupakan trait atau sifat tunggal, melainkan sekelompok sifat yang secara bertingkat membentuk bakat.Setiap anak memiliki kelebihan dan talenta yang sebagian sudah bisa tampak pada usia dini, sehingga orang tua harus selalu memperhatikan minat dan bakat yang di miliki oleh anak tersebut. Dengan mengembangkan minat dan bakat bertujuan agar anak yang mendapat didikkan yang baik dan selalu terpenuhi apa yang menjadi keinginannya, kemudian hari bisa bekerja dibidang yang diminati nya dan sesuai dengan kemampuan serta minat dan bakat yang dimilikinya sehingga anak tersebut bisa mengembangkan kapabilitas untuk belajar serta bekerja secara optimal dengan penuh antusias.
  1. Saran
Dalam penyusunan makalah ini, penulis mengharapkan agar pembaca berkenan menyampaikan kekurangan-kekurangan yang ada dalam makalah ini, serta memberikan saran dan masukan atas kekurangan tersebut. Kritik dan saran yang pembaca ajukan akan kami jadikan sebagai bahan perbaikan untuk penyusunan makalah yang selanjutnya, agar tidak terjadi kesalahan yang sama.



DAFTAR PUSTAKA

Akhmad Sudrajat. 2008. Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik dan       Model Pembelajaran.Bandung : Sinar Baru Algensindo
Harvighurst, Robert J.1961. Human Development and Education. New York :       David Mckay Company
Hurlock, E.B. 1994. Psikologi Perkembangan (Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan). Jakarta : Erlangga
Kartono, kartini. 1979. Psikologi Abnormal Dan Pathologi Sex. Bandung:Alumni
Wirawan, Sarlito S. 1979. Teori-teori psikologi social. Solo : Rajawali Pers
Munandar, Utami, S.C. 1985. Mengembangkan Bakat Dan Kreativitas Peserta       Didik Sekolah. Jakarta : Gramedia
Moesono, Ny 1979. Psikologi perkembangan anak dan remaja. Bandung :             remaja rosdakarya
Semiawan, Conny, R. 1992.  Pengembangan Kurikulum Berdiferensiasi.    Jakarta: Grasindo


2 komentar:

  1. Jgn lupa juga di posting materi kurikulum nya bu wulan 😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya pak rezi pahlevi..terima kasih sudah mengingatkan

      Hapus